Pages

Subscribe:

Saturday, June 5, 2010

Penelitian Ilmiah: Menghafal Al-Qur'an Melindungi dari Stress

Senin, 07 Sep 2009
Riyadh (vioa-Islam) - Hasil Penelitian Ilmiah di Universitas al-Imam Muhammad bin Sa'ud al-Islamiyyah membuktikan ketika kadar hafalan al-Qur'an siswa meningkat maka akan meningkat pula kesehatan jiwanya.
Penelitian yang dilakukan oleh Prof. DR. Shalih bin Ibrahim, professor ilmu Kesehatan Jiwa, terdiri dari dua kelompok. Kelompok pertama, para mahasiswa-mahasiswi Universitas Malik abdul Aziz di Jeddah. Jumlah mereka 170 orang. Kelompok kedua, Para mahasiswa-mahasiswi Ma'had al-Imam asy-Syatibi li ad-Dirasah al-Qur'aniyyah, filial Universitas al-Khairiyah Litahfidzil Qur'an al Karim di Jeddah. Jumlah mereka sama, yaitu 170 orang.
"sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur'an dan mengajarkannya. " HR. Bukhari


Para mahasiswa yang memiliki hafalan yang bagus memiliki kesehatan jiwa yang jauh lebih tinggi. Ada 70 penelitian umum dan Islam, seluruhnya menguatkan pentingnya dien untuk meningkatkan kesehatan dan ketentraman jiwa.
Sebuah penelitian di di Saudi juga menunjukkan peran al-Qur'an dalam meningkatkan kecerdasan bagi anak-anak sekolah dasar dan Pengaruh positif hafalan al Qur'an bagi kesuksesan akademik para mahasiswa.
Penelitian ini sebagai bukti nyata adanya hubungan antara beragama dengan berbagai fenomena hidup. Di antaranya yang paling urgen adalah menghafal al-Qur'an. Siswa yang memiliki hafalan al-Qur'an memiliki kesehatan jiwa yang lebih baik dibandingkan dengan siswa-siswa yang tidak beragama dengan baik, atau tidak menghafalkan al-Qur'an sedikitpun atau hafalan mereka hanya surat-surat dan ayat-ayat pendek.
Penelitian tersebut berpesan agar menghafalkan al-Qur'an dengan sempurna bagi para siswa-siswi di tingkat universitas, untuk menghasilkan nilai positiv bagi kehidupan dan akademik mereka. Mendorong mereka melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dan hal itu merupakan sarana terpenting untuk memperoleh kesehatan jiwa yang tinggi.
Penelitian itu juga menasihatkan kepada para guru agar meningkatkan standar hafalan bagi murid-murid mereka, walau dijadikan sebagai kegiatan ekstra kurikuler, karena memiliki manfaat dan pengaruh yang bagus untuk kesuksesan belajar dan kesehatan jiwa mereka. (PurWd/m3com)
MENGGAPAI LAILATUL QADAR

Oleh: Abdullah Saleh Hadrami

1. Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Allah Ta’ala berfirman: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan (Lailatul Qadar) itu? Malam kemuliaan (Lailatul Qadar) itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS. Al-Qadr : 1-5)

Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, yaitu takdir selama setahun. Allah Ta’ala berfirman: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Ad-Dukhan: 3 - 6)

2. Waktunya

Diriwayatkan dari Nabi –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bahwa malam tersebut terjadi pada malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Ini adalah pendapat yang paling kuat berdasarkan hadits 'Aisyah -Radhiyallahu 'anha, beliau berkata bahwa Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam beri'tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda: "Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat dari Ibnu Umar, Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: "Carilah di sepuluh hari terakhir, jika seorang dari kamu merasa lemah atau tidak mampu maka janganlah sampai terluput tujuh hari sisanya." (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar?

Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: "Barangsiapa melakukan qiyam (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Disunnahkan untuk memperbanyak do'a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari Sayyidah 'Aisyah -Radhiyallahu 'anha bahwasanya beliau bertanya: "Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan?" Beliau –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam menjawab" "Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Ya Allah, Sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemaaf dan Suka Memaafkan,
maka maafkanlah hamba." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad sahih)

Dari 'Aisyah -Radhiyallahu 'anha berkata: "Adalah Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam apabila telah masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya (banyak beribadah), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya. " (HR. Bukhari dan Muslim)

Juga dari 'Aisyah -Radhiyallahu 'anha, belaiu berkata: "Adalah Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) sepuluh hari terakhir yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya." (HR. Muslim)

4. Tanda-Tandanya

Dari 'Ubaiy –Radhiallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: "Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi." (HR. Muslim)

Dari Ibnu Abbas -Radhiyallahu 'anhuma berkata, Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: "(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya sinar matahari melemah kemerah-merahan. " (HR. Ath-Thayalisi, Ibnu Khuzaimah dan Al-Bazzar dengan sanad hasan)
PUASA SI MISKIN


Sekadar renungan.... .......buat peringatan buat  diriku   yang sering terlepas pandang.  Aku telah menemui sebuah rumah yang usang. Rumah itu hanya berdindingkan  buluh bertanggakan batang kelapa. Di serambi rumah itu ada beberapa anak  kecil yang kelihatan lesu dan letih. Aku hampiri mereka lalu bertanya kepada yang paling tua antara mereka, seorang kakak yang berumur baru kira-kira 11 tahun:  


"Mana emak? "
"Mak pergi menoreh," jawabnya.  

"Mana bapak?"  
"Bapak pergi kerja..."  

"Habis tu adik yang kecil ini siapa yang jaga?" Di situ ada seorang bayi  dalam lingkungan umur 5 bulan.
"Adik ini sayalah yang jaga."
Jawab budak berkenaan.
"Awak ada berapa orang adik-beradik? "
"Sepuluh."

"Adik ni yang ke berapa?"
"Saya yang kelapan."  

"Mana abang-abang kamu pergi?"
"Tolong emak menoreh."  

"Adik puasa hari ini?"
"Sama je pakcik, puasa ke tidak.. Kami ni makan sekali je sehari...."
 Jawabnya.
Mendengar kata-kata itu aku sungguh terharu.
Lalu aku bertanya lagi "Adik bersekolah dimana?"
"Saya tak sekolah.. Emak bapak tak mampu..".  

"Bapak kerja apa?"
"Tangkap ikan kat sungai nak buat lauk bukak puasa ".  

Budak itu memberi tahu, lebih baiklah bulan puasa berbanding bulan lain  kerana pada bulan puasa mereka dapat makan kuih. Ada saja orang yang hantar. Aku berlalu dari situ dengan seribu-satu keinsafan. Kebetulan di simpang  jalan ada orang menjual daging lembu tempatan. Aku beli satu kilo tulang lembu. Di kedai runcit pula, aku beli rempah sup dan sepuluh kilo beras untuk disedekahkan kepada keluarga itu. Bila saja aku beri barang-barang itu pada adiknya, dia melompat kegembiraan sambil menjerit "Yeh yeh..! Kita dapat makan daging malam ni..!". Aku bertanya kepada si kakak mengapa adiknya girang sangat. Dia memberitahu aku, sejak dari raya korban tahun lepas baru sekarang mereka berpeluang makan daging lembu sekali lagi. Seminggu kemudian aku datang lagi ke rumah itu. Bila mereka melihat aku datang, mereka girang menyambutku di pintu rumah. Kebetulan pada hari itu aku sempat berjumpa dengan ibu mereka. Sungguh menyedihkan cerita yang aku dengar: Anak yang berumur 4 tahun itu memberitahu padaku bahawa mereka sudah  seminggu makan sup tulang yang aku berikan hari itu.


"Tiap-tiap hari mak buat sup, sedaplah Pakcik.."  


Aku bertanya kepada emaknya macam mana dia lakukan hinggakan sup itu boleh tahan sampai satu minggu? Dia memberitahu padaku bahawa pada hari pertama dia merebus tulang itu,dia telah berpesan kepada anak-anaknya agar tidak membuangkan tulang yang telah dimakan. Dia kutip semula semua tulang-tulang itu dan merebusnya semula untuk dimakan pada hari berikutnya. Itulah yang dia lakukan setiap hari. Dia berkata


"Kalau tidak dapat makan isi, hirup air rebusan tulang pun dah lebih dari cukup untuk anak-anak saya. Dia orang suka sangat."

Aku bertanya lagi "Upah menoreh berapa makcik dapat?"
"Cuma RM3.00 sehari."
"Ayahnya bekerja macam mana"
"Kalau dia dapat ikan itulah yang dibuat lauk setiap hari."  


Rupa-rupanya aku terlupa bahawa aku sebenarnya hidup dalam keadaan mewah..
Pernahkah anda menghirup air rebusan tulang yang direbus semula sepanjang hidup anda? Atau adakah anda buang saja tulang itu beserta daging-daging yang ada padanya kerana anda kata ianya "TAK SEDAP"? Mungkin kita sudah terbiasa hidup senang hinggakan kita lupa bahawa kalau pun kita susah, masih ramai lagi orang yang lebih susah dari kita.
 
 
Walaikumsalam wrb
 PANDUAN IKTIKAF DIDALAM MESJID
 
Pengertian beriktikaf
Iktikaf ialah usaha mendiami dan menetap diri di dalam masjid dari seseorang yang tertentu dengan cara-cara tertentu. Dinamakan juga “Jiwar” (Al-Majmu’ An-Nawawi 6/407), dan merupakan suatu Halwah Syar’iyyah. (Kitab Mukhtasar Baghiah Al-Insan min wazaifi Ramadhan libni Rajab m/s 30)
Asas disyariatkan Iktikaf.
Asas disyarakkan  iktikaf pada sepuluh akhir Ramadhan ialah :
1.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ.
Maksudnya : Daripada Aisyah R.A (Isteri Rasulullah SAW) bahawa Nabi SAW selalu beriktikaf pada sepuluh akhir daripada bulan Ramadhan hingga diwafatkannya oleh Allah, kemudian (diteruskan sunnah) iktikaf selepasnya oleh para isterinya. (Muttafaq ‘Alaih (Al-Bukhari 2026, Muslim / 1772).
2.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قال : كَاْنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَعْتَكِفُ فِيْ كُلِّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّامِ . فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِيْ قُبِضَ فِيْهِ اعْتَكَفَ عِشْرِيْنَ يَوْمًا.
Maksudnya : Daripada Abi Hurairah R.A, ia berkata : Adalah Nabi SAW selalu beriktikaf pada tiap-tiap Ramadhan sepuluh hari (akhirnya). Manakala pada tahun baginda diwafatkan, baginda beriktikaf dua puluh hari. (Sohih Al-Bukhari 2024)
Dengan itu, nyatalah bahawa iktikaf pada sepuluh akhir Ramadhan adalah sunat yang diamalkan secara berkekalan oleh Nabi SAW dan para isterinya, juga oleh para sahabatnya R.A.
Hukum Iktikaf
Telah Ittifaq (bersepakat) di antara imam-imam mazhab yang empat dan semua orang Islam, bahawa hukum iktikaf pada sepuluh akhir Ramadhan adalah sunat Muakkadah, kerana mengikut sunnah Rasulullah SAW. dan menuntuti Lailatul Qadar. (Syarah Sohih Muslim li An-Nawawi 8/67 , Fathul Bari li Ibni Hajar As-Asqolani 4/272).
Dan tidak khilaf bahawa tidak wajib iktikaf kecuali apabila bernazar dengannya.
Manakala hukum iktikaf pada lain daripada sepuluh akhir Ramadhan dan lain daripada iktikaf nazar yang wajib, maka ia adalah sunat (Istihbab) sahaja. Oleh itu sayugialah bagi tiap-tiap orang yang duduk di dalam Masjid kerana menunggu solat atau kerana lain-lain hal, sama ada hal dunia mahu pun akhirat, bahawa ia niat iktikaf padanya, walaupun ia tidak berpuasa, kerana itu dikira pahala dengannya selama mana ia tidak keluar daripadanya. Dan apabila ia masuk semula ke dalam masjid selepas daripada keluarnya, maka hendaklah ia memperbaharui niatnya. (Syarah Sohih Muslim 8/67)
Kelebihan iktikaf 
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : … وَمَنْ اعْتَكَفَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ جَعَلَ اللهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ ثَلاَثَ خَنَادِقَ . كُلُّ خَنْدَقِ أَبْعَدُ مِمَّا بَيْنَ الْخَافِقَيْنِ.
Maksudnya : Daripada Ibnu Abbas R.A daripada Nabi SAW ia bersabda : … Dan barangsiapa yang beriktikaf satu hari kerana menuntut keredhaan Allah, nescaya Allah jadikan di antaranya dan di antara api neraka (berjauhan) tiga buah parit, di mana jarak di antara tiap-tiap satu parit lebih jauh daripada jarak antara dua mata angin. (Dikeluarkan oleh At-Tabrani dan Al-Hakim, ia berkata : Sohih Al-Isnad (At-targhib wa At-tarhib 2/149 – 150), 
Hikmah / tujuan iktikaf 
Di antara hikmah dan tujuan iktikaf ialah : 
1. Meluangkan diri daripada kesibukan dunia dan anak isteri, demi mencari kejernihan jiwa dan membina kekuatan sebagai bekalan jentera dalam melancarkan kegiatan hidup secara lebih baik. (Syarah Sohih Muslim 8/69, Bada’i As-Sona’i li Al-Kasani 1/107) 
2. Kalaulah Ramadhan merupakan sebulan ujian yang penuh dengan rahmat bagi masa setahun, maka iktikaf pada sepuluh hari akhir Ramadhan adalah beberapa hari yang merupakan ujian khas yang lebih tinggi kepada orang-orang yang telah berjaya menempuh ujian Ramadhan secara umumnya, untuk mendapatkan kejayaan khusus yang lebih cemerlang. 
3. Berusaha untuk mendapatkan Lailatul Qadar menurut sunnah Rasulullah SAW. 
Rukun iktikaf 
Rukun iktikaf ada empat perkara : 
  1. Berdiam diri di dalam masjid, sekurang-kurangnya sekadar tamakninah di dalam rukuk, dan tidak keluar darinya kecuali ada sebab-sebab yang diharuskan oleh syarak. 
  1. Niat pada permulaan iktikaf atau pada pembaharuannya semula, seperti : “Sengaja aku iktikaf sepuluh akhir Ramadhan kerana Allah”. 
  1. Orang yang beriktikaf, syaratnya ialah : Islam, berakal, bersih dari haid, nifas dan junub, serta mendapat keizinan suaminya (sekiranya ia adalah seorang isteri) dan tidak (bagi perempuan) di dalam ‘idah. (Al-Umm li As-Syafi’e 1/108, As-Sunan Al-Kubra li Al-Baihaqi 4/323) 
  1. Tempat iktikaf, iaitu masjid.
Kenyataan iktikaf dalam masyarakat Islam
Adalah amat sedikit bilangan umat Islam yang beriktikaf pada sepuluh akhir Ramadhan berbanding dengan jumlah mereka yang ada di dunia ini. Itulah makanya sejak zaman dahulu lagi Ibnu Syihab Az-Zuhri pernah berkata : 
عَجَبًا لِلْمُسْلِمِيْنَ تَرَكُوْا الإِعْتِكَافَ وَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَتْرُكْهُ مُنْذُ دَخَلَ الْمَدِيْنَةَ حَتَى قَبَضَهُ اللهُ .
Maksudnya : Hairan sekali keadaan orang-orang Islam ! Mereka sanggup tidak beriktikaf (sepuluh akhir Ramadhan) sedangkan Nabi SAW tidak pernah meninggalkan iktikaf sejak baginda datang ke Madinah Al-Munawwarah hingga Allah mewafatkannya. (Fathul Bari 285/4 , Bada’i As-Sona’i 1/108) 
Memang tidak sayugia orang meninggalkan iktikaf pada sepuluh akhir Ramadhan … terutama bagi pendakwah-pendakwah dan pejuang-pejuang yang tidak berada di medan perang, juga orang-orang yang mengaku cinta kepada sunnah Rasulullah SAW ! 
Masjid yang diktikaf padanya
Yang paling baik ialah Masjidilharam di Mekah Al-Mukarramah, Al-Masjil An-Nabawi di Madinah Al-Munawwarah, Al-Masjid Al-Aqsa di Baitul Maqdis dan Masjid-masjid jami’ umumnya secara tertib, menurut besar dan ramai ahlinya.  (Al-Umm li As-Syafi’e 1/107) 
-         Sah iktikaf di dalam semua masjid. (Syarah Sohih Muslim 8/68)
-         Sah iktikaf di dalam masjid di atas sutuhnya atau menara yang berhubung dengannya atau rahabahnya (serambinya) atau di kawasan mana sahaja yang dinamakan masjid. (al-Majmu’ 6/436-437)
-         Disunatkan seseorang perempuan yang beriktikaf di dalam masjid mengadakan tabir yang dapat melindungi dirinya dari penglihatan, tetapi tidaklah sampai menyempitkan ke atas orang yang bersolat. (Fathul Bari 4/277, Al-Mughni Li Qudamah 3/191)
-         Sah iktikaf perempuan di dalam masjid di rumahnya, iaitu di mana-mana satu ruangan dari rumahnya yang disediakan khusus untuk solatnya di sisi Imam Abu Hanifah dan pendapat lama bagi Imam As-Syafi’e.(Syarah Sohih Muslim 8/68, Fathul Bari 4/275 dan Raudhah At-Tolibin 2/398)
-         Harus bagi perempuan beriktikaf di dalam masjid bersama-sama dengan suaminya di sisi Al-Hanafiah dan Ahmad. (Bada’i As-Sona’i 2/113, Aujaz Al-Masalik li Kandahlawi 5/204)
-         Makruh bagi perempuan beriktikaf di masjid umum yang didirikan solat jemaah di sisi Imam As-Syafie. (Fathul Bari 4/275)
-         Suami berhak menahan isteri daripada beriktikaf dan mengeluarkannya daripadanya. (Al-Umm 2/108, Syarah Sohih Muslim 8/70)
Cara beriktikaf sepuluh akhir Ramadhan 
1. Dimulai masuk masjid sebelum jatuh matahari bagi petang hari kedua puluh Ramadhan dengan niat iktikaf sepuluh akhir Ramadhan dan keluar daripadanya pada pagi Aidilfitri atau selepas jatuh matahari pada malamnya. 
2. Harus bagi orang yang beriktikaf membawa hamparan khas untuknya masuk ke dalam masjid bersamanya dan harus pula mengambil mana-mana satu ruangan dari masjid sebagai tempat khas baginya, sekiranya tidak menyempitkan orang yang bersolat di dalam masjid. 
3. Mengadakan solat sunat tahiyyatul masjid dua rakaat, kemudian menetap diri di dalamnya dan tidak keluar daripadanya kecuali ada sebab-sebab yang diharuskan. 
4. Harus menjalankan ibadat iktikaf sunat secara tidak penuh atau tidak muwalah seperti iktikaf hanya sehari atau dua hari, nisbah kepada iktikaf di dalam masa sepuluh akhir Ramadhan, atau selang sehari atau hanya waktu malam dan sebagainya. (Fathul Bari 4/283, Raudhah At-Tolibin li An-Nawawi 2/393) 
Sebab-sebab diharuskan keluar.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَاْنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم إِذَا اعْتَكَفَ يُدْنِيْ إِلَيَّ رَأْسَهُ فَأَرَجُلُهُ وَكَانَ لاَ يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلاَّ لِحَاجَةِ اْلإِنْسَانِ.
Maksudnya : Daripada Aisyah R.A, ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila baginda beriktikaf, baginda menghulurkan / mendekatkan kepalanya kepadaku, maka aku pun menyikatkan rambutnya. Dan baginda tidak masuk ke dalam rumah, kecuali kerana hajat manusia. (Muttafaq ‘Alaih wa Lafz li Muslim 1/244) 
Berkata Ibnu Hajar Al-’Asqolani, Maksud :”Hajat Al-insan”. Di sini ialah telah ditafsirkan oleh Az-Zuhri dengan : Buang air kecil dan buang air besar, di mana telah ittifaq oleh semua ulama’ bahawa dikecualikan pada kedua-duanya dan bersalahan pendapat di antara mereka pada yang lain daripada kedua-duanya seperti makan minum. (Fathul Bari 4/273) 
Tegas Imam An-Nawawi : Berkata sahabat-sahabat kami : Harus bagi muktakif keluar masjid kerana mandi junub yang hasil dari mimpi dengan tidak khilaf. (Al-Majmu’ 6/430, Raudhah At-Tolibin 2/405) 
Walau bagaimanapun , saya dapat rumuskan bahawa sebab-sebab atau keuzuran yang diharuskan bagi muktakif (orang yang beriktikaf) keluar dari masjid-masjid iktikafnya, secara tidak dianggap putus muwalah iktikafnya dan tidak berhajat kepada pembaharuan semula niatnya apabila ia masuk, setelah hilang sebab dan keuzurannya ialah : 
1. Qadha hajat :
Iaitu buang air besar dan buang air kecil. Dan tidak mengapa sekiranya ia berwudhu’ di luar masjid, setelah selesai qadha hajat. Juga harus qadha hajat di dalam bilik air di rumah sendiri, walaupun jauh rumahnya dan sekalipun telah sedia ada bilik air di masjid atau di rumah kawan-kawan yang lebih dekat dengan masjid. Dan tidaklah disyaratkan bersangatan kuat rasa hendak qadha hajat bagi mengharuskan seseorang muktakif itu keluar menunaikan qadha’ hajatnya. (Raudhah At-Tolibin 2/405-406) 
2. Mandi junub : 
Iaitu mandi junub kerana mimpi dan sebagainya. 
3. Berwudhu’ : 
Kerana hendak berwudhu’ yang wajib, bukan tajdid, itu pun sekiranya tidak dapat berwudhu’ di dalam masjid. (Raudhah At-Tolibin 2/407, Al-Mughni li Ibni Qudamah 3/206) 
4. Menyucikan najis : 
Kerana menyucikan najis-najis pada badannya atau pakaiannya. 
5. Sakit bahaya : 
Kerana sakit berat yang boleh mengotorkan masjid. (Raudhah At-Tolibin 2/408) 
6. Keluar darah haid : 
Adapun keluar darah istihadhoh , maka kebanyakkan ulamak mengharuskan ia iktikaf di dalam masjid sekiranya tidak membawa kepada kekotoran masjid. (Aun Al-Ma’bud syarah Sunan Abi Daud 7/153) 
7. Takut bahaya : 
Kerana takut bahaya daripada mana-mana pihak. (Al-Umm 2/106, Raudhah At-Tolibin 2/408) 
8. Darurat / kecemasan : 
Kerana darurat untuk melepaskan diri atau orang lain dari apa-apa kecemasan dan bahaya atau sebagainya. 
9. Dipaksa : 
Kerana dipaksa oleh mana-mana sebab atau pihak secara kekerasan. (Al-Umm 2/105-106) 
10. Makan / Minum : 
Kerana hendak makan, sekalipun boleh makan di dalam masjid di sisi mazhab As-Syafie (Al-Umm 2/105-106) , begitu juga kerana hendak minum, sekiranya ia dahaga dan tidak ada air di dalam masjid. Ada pun sekiranya air telah sedia ada di dalam masjid, maka yang lebih sohih ialah ia tidak harus keluar daripadanya. (Al-Majmu’ 6/432-434 dan Raudhoh At-Tolibin 2/405-407) 
Adapun di sisi mazhab Al-Maliki, maka tidak diharuskan makan dan minum di luar masjid tetapi diharuskan keluar untuk membeli makanan / minuman jika tidak ada pihak yang menyediakan makanan untuknya. (Mawahib Al-Jalil li Al-Hatob Al-Maliki dan At-Taj wa Al-Iklil li Al-Mawaq Al-Maliki 2/461) 
Peringatan / Tambahan : 
1. Pembaharuan niat : 
Kesemua sebab-sebab atau keuzuran tersebut, apabila telah hilang atau selesai daripadanya, maka hendaklah ia segera kembali masuk semula beriktikaf dengan tidak payah memperbaharui niatnya. Kalau tidak, dikira batal iktikafnya (yakni muwalahnya) dan ia mesti memperbaharui semula niatnya. 
2. Acap kali : 
Tidak mengapa kalau seseorang muktakif itu acap kali keluar dari masjid tempat iktikafnya, sekiranya acap kali berlaku sebab-sebabnya, seperti senak perut dan sebagainya. (Al-Majmu’ li An-Nawawi 6/432-434, Raudhoh At-Tolibin 2/406) 
3. Keluar semua badan : 
Tidak diiktibarkan seseorang itu keluar dari masjid kecuali semua tubuh badannya dari masjid, bukan sekadar keluar satu juz daripada tubuh badannya. Kecuali apabila ia keluar dengan dua kakinya dan ia berdiri di atas kedua-duanya, maka diiktibarkan ia keluar, walau pun sebahagian daripada badannya seperti kepala atau tangannya masih berada di dalam masjid.  (Raudhoh At-Tolibin 2/404) 
4. Keluar dengan lupa : 
Tidak dianggap batal iktikaf seseorang yang keluar dari masjid tempat iktikafnya dengan sebab lupa atau tidak sengaja. (Raudhoh At-Tolibin 2/398) 
5. Mimpi keluar air mani : 
Tidak diiktibarkan batal iktikaf seseorang yang bermimpi sampai keluar mani, tetapi hendaklah segera keluar untuk mandi junub. 
6. Tidak mesti tergesa- gesa (terburu-buru) : 
Apabila seseorang muktakif itu keluar dari masjid kerana apa-apa sebab dan hajat yang diharuskan, maka tidak disyaratkan ia bersegera … cukuplah dalam kadar biasa ia menjalankan hajat atau kerja hingga dapat menyelesaikannya, tetapi tidaklah sampai terlalu lewat. (Raudhoh At-Tolibin 2/406, Al-Majmu’ 6/429) 
7. Hukum sewaktu di luar masjid. 
Bersalahan pendapat ulama’ mengenai hukum seseorang yang beriktikaf, sewaktu ia berada di luar masjid kerana sebab-sebab yang diharuskan itu, apakah ia dikira sebagai orang yang beriktikaf atau tidak !. 
8. Ziarah orang sakit dan menyaksi jenazah : 
Harus bagi orang yang beriktikaf keluar untuk menziarahi orang-orang sakit atau mengebumikan mayat… sekiranya tidak ada orang lain yang mengurusnya. Tetapi apabila ia masuk semula beriktikaf lebih baik ia memperbaharui niatnya, kerana ada khilaf ulama’ mengenai batal (muwalah) iktikafnya. Adapun menziarahi orang sakit sambil melalui jalan kepada satu-satu hajat yang diharuskan tanpa berhenti, maka tidaklah memutuskan muwalah iktikafnya. Rasulullah SAW pernah lalu di tepi orang sakit walhal ia sedang dalam iktikafnya . Baginda hanya bertanya halnya sambil berjalan tanpa berpaling dan berhenti. (Dikeluarkan oleh Abu Daud raqm 2455) 
Diriwayatkan daripada Ali RA, ia berkata : Orang yang beriktikaf (boleh) menziarahi yang sakit, menyaksi jenazah, menghadiri Jumaat dan menjumpai ahlinya, tetapi tidak duduk dengan mereka. (Al-Musonif li Ibni Abi Syaibah 8/631, dan Kanz Al-’Umal li Burhan Fauzi 3/87) 
9. Solat Jumaat. 
Ahli Jumaat yang beriktikaf di masjid yang bukan masjid jamek, hendaklah ia keluar dari tempat iktikafnya untuk pergi menunaikan fardu Jumaat di mana-mana masjid jamek dan batallah muwalah iktikafnya di sisi Al-jumhur. Setelah selesai solat Jumaat hendaklah ia kembali semula ke tempat iktikaf dengan memperbaharui niatnya semula. (Tuhfah Al-Ahwazi Syarah Jami’ At-Tirmizi 3/518-520, Al-Majmu’ 6/442) 
Berkata Abu Hanifah dan sahabatnya : Tidak sayugia bagi seseorang muktakif itu keluar daripada masjid kerana satu-satu hajat, kecuali untuk Jumaat, buang air besar dan buang air kecil. Dan sayugia ia keluar kepada solat Jumaat, ketika diazan solat atau sebelumnya sedikit, iaitu sekira-kira selama ia di dalam masjid Jumaat ia sempat solat empat rakaat sebelum Jumaat dan empat rakaat selepasnya. (Bada’i A-Sona’i 1/114, Aun Al-Ma’bud 7/140) 
Begitu juga pendapat Imam Ahmad, iaitu harus bagi seseorang yang beriktikaf di masjid yang tidak diadakan Jumaat padanya, keluar kerana bersolat Jumaat, dengan tidak dikira batal (muwalah) iktikaf kerana keluarnya adalah untuk sebab yang wajib dan yang tak dapat tidak baginya. (Al-Mughni 3/192) 
Berkata Al-Thauriey, As-Syafi’e dan Ishak : Jikalau sekiranya seorang yang beriktikaf itu telah bersyarat mulai iktikaf bahawa ia akan keluar solat Jumaat atau ziarah orang sakit atau mengiringi jenazah, maka tidaklah batal iktikafnya dengan berbuat demikian. Ini adalah satu riwayat daripada Imam Ahmad (Fathul Bari 4/273), terutama sekiranya iktikaf itu sunat (Aunul Ma’bud 7/140). 
Adapun di sisi mazhab Al-Maliki, maka dianggapkan batal juga muwalah iktikaf dengan sebab keluar solat Jumaat, tetapi diharuskan keluar kerana mandi dan membersihkan badan untuk Jumaat. Bahkan diharuskan juga keluar untuk mandi semata-mata kerana tujuan menyejukkan tubuh badan. (Mawahibul Jalil dan At-taj wal Iklil 2/462-463) 
10. Kewajipan yang lebih afdhal dari beriktikaf (sunat) : 
Sayugia bagi orang yang beriktikaf sunat bahawa ia keluar dari masjid iktikafnya kerana menjalankan satu-satu kewajipan yang lebih tinggi darjatnya dari iktikaf di sisi syarat … walaupun perkara itu adalah membatalkan (muwalah) iktikafnya. Kemudian hendaklah ia segera masuk semula dengan memperbaharui niat iktikafnya. 
Suami Isteri semasa Iktikaf 
1)      Harus bagi isteri orang yang beriktikaf (muktakif) :-
a.       Ziarah suaminya yang sedang beriktikaf di masjid dan bercakap dengannya, kerana Sofiyyah bt. Hayy R.A pernah menziarahi suaminya Rasulullah SAW dan bercakap-cakap dengannya sewaktu baginda sedang beriktikaf pada sepuluh akhir Ramadhan. (Sohih Al-Bukhari 24/257)
b.      Berkhalwat dengannya dan berseronok (tamatta’) dengannya secara tidak bersyahwat, sama ada di dalam masjid atau di luarnya di sisi Al-Jumhur. (Fathul Bari 4/280, Raudah Al-Talibin 2/392)
c.       Menolong suaminya, seperti menyikat rambutnya dan sebagainya, walaupun isterinya itu berada di dalam keadaan haid yang terpaksa dihulur keluar kepala suaminya dari masjid, kerana Aisyah RA pernah menyikat rambut Rasulullah SAW sewaktu baginda sedang iktikaf di dalam masjid. (Sohih Ibn Khuzaimah 3/348-349) 
2)      Perkara yang dilarang lakukan dengan isteri.
a.       Berjimak dengannya, sama ada di dalam masjid atau sewaktu keluar darinya, sama ada di waktu malam atau siang. Apabila mana-mana orang yang beriktikaf itu berjimak dengan isterinya dalam keadaan ia sedar bahawa ia di dalam iktikaf walaupun di luar masjid serta tahu bahawa jimak itu dilarang ka atasnya, maka batallah iktikafnya dan hendaklah ia segera mandi junub dan masuk beriktikaf dengan memperbaharui semula niatnya. Kecuali jika sekiranya masa ia berjimak di luar masjid itu terlalu sedikit, kadarnya semasa ia keluar kerana qadha’ hajat … maka khilaf di antara ulama’ mengenai batal iktikafnya atau tidak. Adapun jika jimak dalam keadaan lupa bahawa ia sedang beriktikaf maka batal juga di sisi Jumhur ulama’ kecuali As-Syafie. (Al-Majmu’ 6/433 457 dan Mughni Al-Muhtaj 1/452)
b.      Adapun berseronok dengan isterinya secara bersyahwat pada yang lain daripada faraj, maka tidak membatalkan iktikafnya selama tidak keluar air mani di sisi Al-Jumhur. Begitu juga jika ia berusaha mengeluarkan air mani dengan tangan dan sebagainya. (Raudhoh At-Tolibin 2/392, Fathul Bari 4/272) 
Perkara yang harus dilakukan. 
Harus bagi orang yang beriktikaf melakukan yang berikut :- 
1.      Berpakaian biasa.
2.      Makan / minum di dalam masjid, tetapi disunatkan menggunakan alat-alat seperti hamparan bagi menjaga kebersihan masjid.
3.      Memakai bau-bauan.
4.      Bekerja dengan pekerjaan yang sedikit.
5.      Menyambut tetamu, bercakap dengannya dan menghantarkannya pulang.
6.      Sedikit berjual beli pada perkara-perkara yang sangat berhajat.
7.      Bercakap biasa.
8.      Berkahwin dengan mengahwinkan.
9.      Bercukur, menyikat rambut dan mengerat kuku.
10.  Belajar dan mengajar. (Al-Umm 2/105, Bada’i Al-Sona’i 2/116) 
Perkara yang tidak harus dilakukan 
Tidak harus bagi orang yang beriktikaf melakukan perkara yang tidak berfaedah seperti berjual-jual kosong dan apa-apa kerja yang sia-sia, apalagi yang makruh dan yang haram … begitu juga melakukan usaha kehidupan seperti bertukang dan sebagainya. (Al-Majmu’ 6/460, Aun Al-Ma’bud 7/142) 
Berkata Ali RA : Mana-mana lelaki yang beriktikaf, maka hendaklah ia tidak memaki orang dan tidak bercakap kotor. ( Al-Mughni 3/203). 
Amalan-amalan semasa iktikaf. 
Sebenarnya tidak ada bagi iktikaf itu satu-satu amalan dan bacaan yang tertentu yang tsabit dari Rasulullah SAW selain daripada kesungguhan baginda dalam beriktikaf dan beribadat pada sepuluh akhir Ramadhan lebih daripada masa-masa yang lain.
1.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَجْتَهِدُ فِيْ الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مَالاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهَا.
Maksudnya : Daripada Siti Aisyah RA, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW bersungguh-sungguh (di segi beribadat) pada masa sepuluh akhir Ramadhan lebih banyak daripada (ibadatnya) pada masa-masa lain. (Sohih Muslim raqm 1175  2/832) 
2.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ.
Maksudnya : Daripada Siti Aisyah RA, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW apabila masuk sepuluh akhir daripada bulan Ramadhan, bersungguh-sungguhl ah baginda pada mengerjakan ibadat (dengan meninggalkan tidur dengan isterinya), baginda menghidupkan malamnya dan menggerakkan isteri-isterinya, (supaya bangkit beribadat bersama-samanya) . (Muttafaq ‘Alaih : Sohih Al-Bukhari 2/255, Muslim 2/832) 
Berkata An-Nu’man b. Basyir : Kami dapat adakan Qiamullail bersama-sama Rasulullah SAW pada malam yang kedua puluh lima hingga kepada setengah malam dan pada malam yang kedua puluh tujuh hingga kepada masa yang kami sangka kami tak sempat lagi hendak bersahur, kerana terlalu lewatnya. (Dikeluarkan oleh Ibn Khuzaimah raqm 2204, sanadnya hasan). 
Berkata As-Syafie dan sahabat-sahabatnya : Adalah sangat baik bagi orang yang beriktikaf bahawa ia memenuhi masanya dengan amalan-amalan taat seperti : solat, tasbih, zikir, membaca/tilawah Al-Quran dan belajar serta mengajar, juga mentalaah kitab-kitab dan menulisnya. (Al-Majmu’ 6/458). 
Tetapi setengah ulama’ berpendapat bahawa dikehendaki supaya setiap orang yang beriktikaf itu hanya menumpukan masanya dengan amalan asasi bagi iktikaf sahaja, iaitu zikir, solat, tilawah Al-Quran dan doa. ( Mawahibul Jalil dan Al-Taj Wal Iklil 2/461, Muktasar Baghiah Al-Insan min Wazaifi Ramadhan Libni Rajab, M/s 30). 
Seruan dan Khatam 
Kalaulah madrasah Qiamullail merupakan sebuah madrasah umum bagi tarbiah rohiyyah yang diasaskan oleh Rasulullah SAW berdasarkan perintah Allah SWT :
قم الليل إلا قليلا (2 Surah Al-Muzammil)
Maka “Iktikaf sepuluh akhir Ramadhan” adalah merupakan “Ibadat khusus yang membawa kepada kemuncak darjat Qiamullail”, kerana ia dibantu oleh Shiam (puasa) Ramadhan pada siang hari dan tartil Al-Quran di malam-malam hari bulan nuzulnya Al-Quran. 
Kalaulah “Qiamullail” merupakan amalan umum pada setiap malam di sepanjang tahun … maka amalan iktikaf pada sepuluh akhir Ramadhan merupakan “Amalan / ujian khas” secara lebih hebat dan lebih gigih bagi menaikkan darjat kehidupan Muslim / Muslimat di setiap akhir tahun … Ujian yang mengandungi padanya berbagai-bagai ibadat asas seperti : solat, shiam, zakat, qiamullail, tadarus Al-Quran dan tartil Al-Quran, berbagai-bagai zikir, doa, istighfar, taubat, mujahadah dan muhasabah diri serta mentazkiahkannya… 
Itulah barangkali di antara hikmah makanya disyarakkan Qiamullail secara umumnya di awal-awal kedatangan Al-Islam iaitu sewaktu baginda berada di Mekah Al-Mukarramah, manakala ibadat iktikaf yang merupakan kemuncak itu adalah disyarakkan sewaktu baginda berada di Madinah Al-Munawwarah. 
MasyaAllah !!! Alangkah jauhnya perbezaan di antara orang yang masuk ujian di akhir tahun secara penuh ikhlas dan ittiba’ (Iktikaf) dengan orang yang tidak masuk ujian…. 
MasyaAllah !!! Qudwah hasanah Rasulullah SAW amatlah dirasai, tepat dan sesuai dalam menyahut tuntutan fitrah bagi kehidupan manusia yang sangat perlu kepada ketenangan di celah-celah kesibukan kerja demi mengangkat mutu hati, menjernihkan jiwa … atau sekurang-kurangnya memperbaiki jentera hati yang merupakan asas kekuatan kepada daya gerak dalam menuju kemajuan hidup dunia dan akhirat… 
MasyaAllah !!! Di manakah kita, wahai ikhwan dan akhawat dengan peraturan Al-Islam yang cukup sempurna ini ? Di manakah kita dengan Qudwah hasanah dari sunnah Rasulullah SAW ini ? Di manakah kita dengan tuntutan fitrah kita yang cukup bersih dan benar ini ? 
Ayuh … marilah kita sama-sama membawa diri kita dan keluarga kita untuk mengurung diri beriktikaf dalam sebaik-baik tempat di bumi Allah ini, iaitu masjid, dan di waktu yang sebaik-baik, iaitu sepuluh akhir Ramadhan … kerana menyahuti dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW Qauliyyah dan Fe’liyyahnya serta sohih lagi sorih …. 
Subhannallah !!! Hairan sekali kepada umat Islam yang telah mendapat kurniaan rezeki Allah SWT secara melimpah ruah… kesihatan badan yang segar bugar, waktu yang cukup lapang dan keadaan yang cukup mengizinkan. Tetapi, pada waktu yang sama, mereka tidak juga beriktikaf !!!. Sedangkan Rasulullah SAW telah menyeru, mengajak dan menekan untuk beriktikaf pada sepuluh akhir Ramadhan … bahkan dalam kesibukan kerja yang penuh Baginda tetap beramal dengan amalan yang tidak hanya menjadi Qudwah sekadar sekali gus … tetapi berkekalan sehingga diwafat oleh Allah… 
Segala dakwaan kesibukan dalam bidangnya adalah tertolak secara cukup malu dan kecil diri di hadapan kesibukan yang berlipat kali ganda yang dihadapi oleh Nabi SAW, baik di peringkat peribadi mahu pun masyarakat dan negara … juga oleh para sahabatnya Radiallahu ‘Anhum !!!.
Akhir sekali, marilah sama-sama kita beriktikaf pada sepuluh akhir Ramadhan nescaya kita dikurniakan Lailatul Qadar dan kelebihannya yang banyak, Aaminn.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ ، عَلَى اللهِ تَوَكَّلْنَا ، رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ . رَبَّنَا اغْفِرْلِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ . رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَابُ الرَّحِيْمُ …
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ
 PUASA SYAWAL
 
Puasa Syawal, Puasa Seperti Setahun Penuh
Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِمَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)
Orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal. Puasa ramadhan adalah selama sebulan berarti akan semisal dengan puasa 10 bulan. Puasa syawal adalah enam hari berarti akan semisal dengan 60 hari yang sama dengan 2 bulan. Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan syawal akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56 dan Syarh Riyadhus Sholihin, 3/465). Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat ini bagi umat Islam.
Apakah Puasa Syawal Harus Berurutan dan Dilakukan di Awal Ramadhan ?Imam Nawawi dalam Syarh Muslim, 8/56 mengatakan, “Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.” Oleh karena itu, boleh saja seseorang berpuasa syawal tiga hari setelah Idul Fithri misalnya, baik secara berturut-turut ataupun tidak, karena dalam hal ini ada kelonggaran. Namun, apabila seseorang berpuasa syawal hingga keluar waktu (bulan Syawal) karena bermalas-malasan maka dia tidak akan mendapatkan ganjaran puasa syawal.
Catatan : Apabila seseorang memiliki udzur (halangan) seperti sakit, dalam keadaan nifas, sebagai musafir, sehingga tidak berpuasa enam hari di bulan syawal, maka boleh orang seperti ini meng-qodho’ (mengganti) puasa syawal tersebut di bulan Dzulqo’dah. Hal ini tidaklah mengapa. (Lihat Syarh Riyadhush Sholihin, 3/466)
Tunaikan yang Wajib dahulu, baru Sunnah
Lebih baik bagi seseorang yang masih memiliki qodho’ puasa Ramadhan untuk menunaikannya daripada melakukan puasa Syawal. Karena tentu saja perkara yang wajib haruslah lebih diutamakan daripada perkara yang sunnah. Alasan lainnya adalah karena dalam hadits di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Barang siapa berpuasa Ramadhan.” Jadi apabila puasa Ramadhannya belum sempurna karena masih ada tanggungan puasa, maka tanggungan tersebut harus ditunaikan terlebih dahulu agar mendapatkan pahala semisal puasa setahun penuh.
Apabila seseorang menunaikan puasa Syawal terlebih dahulu dan masih ada tanggungan puasa, maka puasanya dianggap puasa sunnah muthlaq (puasa sunnah biasa) dan tidak mendapatkan ganjaran puasa Syawal karena kita kembali ke perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, “Barang siapa berpuasa Ramadhan.” (Lihat Syarhul Mumthi’, 3/89, 100)
Catatan : Adapun puasa sunnah selain puasa Syawal, maka boleh seseorang mendahulukannya dari mengqodho’ (mengganti) puasa yang wajib selama masih ada waktu lapang untuk menunaikan puasa sunnah tersebut. Dan puasa sunnahnya tetap sah dan tidak berdosa. Tetapi perlu diingat bahwa menunaikan qodho’ puasa tetap lebih utama daripada melakukan puasa sunnah. Hal inilah yang ditekankan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin -semoga Allah merahmati beliau- dalam kitab beliau Syarhul Mumthi’, 3/89 karena seringnya sebagian orang keliru dalam permasalahan ini.
Kita ambil permisalan dengan shalat dzuhur. Waktu shalat tersebut adalah mulai dari matahari bergeser ke barat hingga panjang bayangan seseorang sama dengan tingginya. Kemudian dia shalat di akhir waktu misalnya jam 2 siang karena udzur (halangan). Dalam waktu ini bolehkah dia melakukan shalat sunnah kemudian melakukan shalat wajib? Jawabnya boleh, karena waktu shalatnya masih lapang dan shalat sunnahnya tetap sah dan tidak berdosa. Namun hal ini berbeda dengan puasa syawal karena puasa ini disyaratkan berpuasa ramadhan untuk mendapatkan ganjaran seperti berpuasa setahun penuh. Maka perhatikanlah perbedaan dalam masalah ini!
Boleh Berniat di Siang Hari dan Boleh Membatalkan Puasa Ketika Melakukan Puasa SunnahPermasalahan pertama ini dapat dilihat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk menemui keluarganya lalu menanyakan: “Apakah kalian memiliki sesuatu (yang bisa dimakan, pen)?” Mereka berkata, “tidak” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau begitu sekarang, saya puasa.” Dari hadits ini berarti seseorang boleh berniat di siang hari ketika melakukan puasa sunnah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terkadang berpuasa sunnah kemudian beliau membatalkannya sebagaimana dikatakan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dan terdapat dalam kitab An Nasa’i. (Lihat Zadul Ma’ad, 2/79)
Semoga dengan sedikit penjelasan ini dapat mendorong kita melakukan puasa enam hari di bulan Syawal, semoga amalan kita diterima dan bermanfaat pada hari yang tidak bermanfaat harta dan anak kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.
 RENUNGAN BERKELUARGA BUAT SAHABAT-SAHABATKU

Bagi yang bujang sesuatu i'tibar
Bagi yang belum / bakal berkeluarga suatu pelajaran
Bagi yang berkeluarga perlu mengajar

Wahai SUAMI renungkanlah
Pernikahan atau perkahwinan menyingkap tabir rahsia
Isteri yang kamu nikahi tidaklah semulia Khadijah
Tidaklah setaqwa Aisyah
Tidaklah setabah Fatimah
Justeru,
Isterimu hanyalah wanita akhir zaman yang punya cita-cita menjadi solehah..
Pernikahan atau perkahwinan mengajar kita kewajiban bersama
Isteri menjadi tanah, kamu langit penaungnya
Isteri ladang tanaman, kamu pemagarnya
Isteri kiasan ternakan, kamu gembalanya
Isteri adalah murid, kamu mursyidnya
Isteri bagaikan anak kecil, kamu tempat bermanjanya
Saat isteri menjadi madu, kamu teguklah sepuasnya
Setika isteri menjadi racun, kamulah penawar bisanya
Seandai isteri tulang yang bengkok, berhatilah meluruskannya
Pernikahan atau perkahwinan menginsafkan kita, perlunya iman dan taqwa
Untuk belajar meniti sabar dan redho ALLAH s.w.t kerana
Memiliki isteri yang tak sehebat mana
Justeru Kamu akan tersentak dari alpa
Kamu bukanlah Rasulullah s.a.w
Pun bukanlah Sayyidina Ali Karamallahhuwajhah
Cuma suami akhir zaman yang berusaha menjadi SOLEH.
Amin.

Wahai ISTERI pula renungkanlah
Pernikahan atau perkahwinan membuka tabir rahsia
Suami yang menikahi kamu tidaklah semulia Muhammad s.a.w.
Tidaklah setaqwa Ibrahim
Tidak setabah Ayyub
Tidak segagah MusaApalagi setampan Yusuf
Justeru
Suamimu hanyalah lelaki akhir zamanyang punya cita-cita membangun keturunan yang soleh
Pernikahan atau perkahwinan mengajar kita kewajiban bersama
Suami menjadi pelindung, kamu penghuninya
Suami nakhoda kapal, kamu pengemudinya
Suami bagaikan pelakon yang nakal, kamu adalah penonton kenakalannya
Saat suami menjadi raja kamu nikmati anggur singgahsananyaS
ekita suami menjadi bisa, kamulah penawar ubatnya
Seandainya suami bengis lagi lancang, sabarlah memperingatkannya
Pernikahan ataupun perkahwinan mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa
Untuk belajar meniti sabar dan redho ALLAH s.w.t. kerana
Memilik suami yang tak segagah mana..
Justeru Kamu akan tersentak dari alpa
Kamu bukanlah Khadijah yang begitu sempurna di dalam menjaga
Bukanlah Hajar yang begitu setia dalam sengsara
Cuma wanita akhir zaman yang berusaha menjadi SOLEHAH
Amin.

Justeru itu wahai SUAMI dan ISTERI
Jangan menuntut terlalu tinggi
Seandainya diri sendiri jelas tidak berupaya SUAMI dan ISTERI ingatlah:
Mengapa mendambakan isteri sehebat Khadijah
Andai diri tidak semulia Rasulullah s.a.w.
Tidak perlu isteri secantik Balqis
Andai diri tidak sehebat Sulaiman
Mengapa mengharapkan suami setampanYusuf
Seandai kasih tak setulus Zulaikha
Tidak perlu mencari suami seteguh Ibrahim
Andai diri tidak sekuat Hajar dan Sarah.
Is This Place in Heaven?

 
 
 


Horned God Represents the horned god of witchcraft. Pan or Cernunnos. Note the thumb under the fingers and given by the right hand.



Horned Hand The sign of recognition between those in the Occult. When pointed at someone it is meant to place a curse. Note the thumb over the fingers and given by the left hand.





Witch Sign or Moon Sign Used to salute the rising moon. Also used by surfers and football teams. This is the sign that the furor should be using to indicate the "Hook Um" horns, Not the 2 above



Anton LaVey, leader and founder of the Church of Satan.
Above: Anton LaVey, founder of the Church of Satan and author of The Satanic Bible, displaying the "Horned Hand" (also called the "satanic salute" and Il Cornuto) with his left hand, on the back cover of The Satanic Bible.



A Satanic Ritual
Above: (Satanists making the "Satanic salute" to an altar displaying the Goat of Mendes or Baphomet, to acknowledge their allegiance to Satan, during a Satanic ritual.)



Above, from the Satanic Bible: The ‘Satanic Salute’, Horned Hand or The Mano Cornuto is a signal of allegiance between members of Satanism to their ‘horned god’, a sign of recognition and allegiance.

MELAYU ISLAM....JUGA SAMA...!!!
Kesiannn... tengok mereka-mereka ni semua...


ENTAH APA BENDA LAH PERJUANGAN ANAK-ANAK MELAYU-ISLAM ZAMAN SEKARANG NI....
Dulu-dulu berjuangan menentang penjajah.. kemudian berjuang mendapatkan kemerdekaan. . kemudian berjuang utk mengekalkan kemerdekaan. . kemudian berjuang membangunkan negara.. SEKARANG NI.. ENTAH APA BENDA YANG SEDANG DIPERJUANGKAN. ..??????


--
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Firman Allah SWT :
[7:179] Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Hadis Rasulullah SAW:
Dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah SAW., sabdanya: "Siapa yang tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, takbir tiga puluh tiga kali, jadi jumlahnya sembilan puluh sembilan kali, kemudian dicukupkannya seratus dengan membaca: "La ilaha illallahu wahdahu la syarikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai-in qadir. Maka diampuni Allah segala kesalahannya, walaupun sebanyak buih di lautan." (Hadis riwayat Muslim)
 SHALAT SUNAT RAWATIB

Dalam persoalan ini, pendapat yang rajih ialah pernyataan yang
disampaikan oleh Syaikh Ibnu 'Utsaimin [15], yaitu duabelas raka'at
dengan perincian dua raka'at sebelum Subuh, empat raka'at sebelum
Zhuhur, dua raka'at setelah Zhuhur, dua raka'at setelah Maghrib, dan
dua raka'at setelah 'Isya`, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ummu
Habîbah, juga dikuatkan dengan hadits 'Aisyah yang berbunyi:

“Sesungguhnya dahulu, Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum Zhuhur” [16]   

Hadits ini tidak bertentangan dengan hadits Ibnu 'Umar radhiallahu' anhu
yang menerangkan bahwa beliau radhiallahu' anhu hafal dari Nabi sepuluh
raka'at. Mengenai hal ini, Ibnul-Qayyim memiliki penjelasan: "Dahulu,
Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam selalu menjaga sepuluh raka'at pada
waktu muqim. Inilah yang disampaikan Ibnu 'Umar . . . , dan beliau
shollallahu 'alaihi wa sallam terkadang shalat empat raka'at sebelum
Zhuhur, sebagaimana dijelaskan dalam Shahîhain dari 'Aisyah bahwa
beliau shollallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan empat
raka'at sebelum Zhuhur. Sehingga bisa dikatakan bahwasanya bila Nabi
shollallahu 'alaihi wa sallam shalat di rumah, maka beliau shollallahu
'alaihi wa sallam shalat empat raka'at. Dan bila shalat di masjid, maka
shalat dua raka'at. Demikianlah yang lebih rajih. Bisa juga dikatakan
bahwa beliau shollallahu 'alaihi wa sallam pernah berbuat demikian dan
berbuat begitu, kemudian 'Aisyah dan Ibnu 'Umar masing-masing
menyampaikan apa yang dilihatnya". [17]

Adapun Syaikh 'Abdullah bin Abdur-Rahman al-Bassâm melakukan kompromi
terhadap hadits-hadits ini. Beliau mengatakan: "Pernyataan 'empat
raka'at sebelum Zhuhur', tidak bertentangan dengan hadits Ibnu 'Umar
yang terdapat pernyataan 'dua raka'at sebelum Zhuhur'. Letak
komprominya, terkadang beliau shollallahu 'alaihi wa sallam shalat dua
raka'at dan terkadang empat. Kemudian masing-masing dari mereka berdua
(Ibnu 'Umar dan 'Aisyah), masing-masing menceritakan salah satu dari
kedua amalan tersebut. Fenomena semacam ini terjadi juga pada banyak
ibadah dan dzikir-dzikir sunnah."[18]

FAIDAH SHALAT SUNNAH RAWÂTIB
Sebagaimana telah diuraikan pada awal uraian ini, shalat sunnah Rawâtib
ini didefinisikan dengan shalat yang terus dilakukan secara kontinyu
mendampingi shalat fardhu. Demikian Syaikh Muhammad bin Shalih
al-'Utsaimin memberikan definisinya, sehingga berkaitan dengan faidah
shalat sunnah Rawatib ini, beliau memberikan penjelasan: "Faidah
Rawatib ini, ialah menutupi (melengkapi) kekurangan yang terdapat pada
shalat fardhu".[19]

Sedangkan Syaikh 'Abdullah al-Basâm mengatakan dalam Ta-udhihul-Ahkam
(2/383-384) bahwa shalat sunnah Rawâtib memiliki manfaat yang agung dan
keuntungan yang besar. Yaitu berupa tambahan kebaikan, menghapus
kejelekan, meninggikan derajat, menutupi kekurangan dalam shalat
fardhu. Sehingga Syaikh al-Basâm mengingatkan, menjadi keharusan bagi
kita untuk memperhatikan dan menjaga kesinambungannya.
 SHALAT ISYRAQ ITU APA??????

Shalat Isyraq adalah permulaan shalat Dhuha, di mana waktu shalat Dhuha itu dimulai dari terbitnya matahari.

Penetapan penamaan shalat ini pada waktu shalat Dhuha sebagai shalat Isyraq diperoleh dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu.

Dari Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, bahwa Ibnu Abbas tidak shalat
Dhuha. Dia bercerita, lalu aku membawanya menemui Ummu Hani’ dan
kukatakan : “Beritahukan kepadanya apa yang telah engkau beritahukan
kepdaku”. Lalu Ummu Hani berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah masuk ke rumahku untuk menemuiku pada hari pembebasan
kota Mekkah, lalu beliau minta dibawakan air, lalu beliau menuangkan ke
dalam mangkuk besar, lalu minta dibawakan selembar kain, kemudian
beliau memasangnya sebagai tabir antara diriku dan beliau. Selanjutnya,
beliau mandi dan setelah itu beliau menyiramkan ke sudut rumah. Baru
kemudian beliau mengerjakan shalat delapan rakaat, yang saat itu adalah
waktu Dhuha, berdiri, ruku, sujud, dan duduknya adalah sama, yang
saling berdekatan sebagian dengan sebagian yang lainnya”. Kemudian Ibnu
Abbas keluar seraya berkata : “Aku pernah membaca di antara dua papan,
aku tidak pernah mengenal shalat Dhuha kecuali sekarang.

“Artinya : Untuk bertasbih bersamanya (Dawud) di waktu petang dan pagi” [Shaad : 18]

Dan aku pernah bertanya : “Mana shalat Isyraq ?” Dan setelah itu dia
berkata : “Itulah shalat Isyraq” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabari di
dalam Tafsirnya dan Al-Hakim [1]

Mengenai keutamaan shalat Dhuha di awal waktunya yang ia adalah shalat Isyraq, telah diriwayatkan beberapa hadits berikut ini.

Dari Abu Umamah, dia bercerita, Rasulullah Shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa mengerjakan shalat Shubuh di masjid dengan
berjama’ah, lalu dia tetap diam di sana sampai dia mengerjakan shalat
Dhuha, maka baginya seperti pahala orang yang menunaikan ibadah haji
atau umrah, (yang sempurna haji dan umrhanya)” [Diriwayatkan oleh
Ath-Thabrani]

Dan di dalam sebuah riwayat disebutkan.

“Artinya : Barangsiapa mengerjakan shalat Shubuh berjama’ah, lalu dia
duduk sambil berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit …”
[Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani] [2]
PESANAN  RUH KEPADA UMAT MANUSIA

Apabila roh keluar dari jasad, ia akan berkata-kata dan seluruh isi alam sama ada di langit atau bumi akan mendengarnya kecuali jin dan manusia. Apabila mayat dimandikan, lalu roh berkata : "Wahai orang yang memandikan, aku minta kepadamu kerana Allah untuk melepaskan pakaianku dengan perlahan-lahan sebab pada saat ini aku beristirahat daripada seretan malaikat maut". Selepas itu, mayat pula bersuara sambil merayu : "Wahai orang yang memandikan, janganlah engkau menuangkan airmu dalam keadaan panas. Begitu juga jangan menuangnya dengan air yang dingin kerana tubuhku terbakar apabila terlepasnya roh dari tubuh".

Apabila dimandikan, roh sekali lagi merayu :"Demi Allah, wahai orang yang memandikan jangan engkau menggosok aku dengan kuat sebab tubuhku luka-lukadengan keluarnya roh". Setelah dimandi dan dikafankan, telapak kaki mayat diikat dan ia pun memanggil-manggil dan berpesan lagi supaya jangan diikat terlalu kuat serta mengafani kepalanya kerana ingin melihat wajahnya sendiri, anak-anak, isteri atau suami buat kali terakhir kerana tidak dapat melihat lagi sampai Hari Kiamat.

Sebaik keluar dari rumah lalu ia berpesan : "Demi Allah, wahai jemaahku, aku telah meniggalkan ister iku menjadi Balu. Maka janganlah kamu menyakitinya. Anak-anakku telah menjadi yatim dan janganlah kalian Menyakiti mereka. Sesungguhnya pada hari itu aku telah keluar dari rumahku dan aku tidak akan dapat kembali kepada mereka buat selama-lamanya" . Sesudah mayat diletakkan pada pengusung, sekali lagi diserunya kepada jemaah supaya jangan mempercepa tkan mayatnya ke kubur selagi belum mendengar suara anak-anak dan sanak saudara buat kali terakhir.

Sesudah dibawa dan melangkah sebanyak tiga langkah dari rumah, roh pula berpesan: "Wahai Kekasihku, wahai saudaraku dan wahai anak-anakku, jangan kamu diperdaya dunia sebagaimana ia memperdayakan aku dan janganlah kamu lalai ketika ini sebagaimana ia melalaikan aku". "Sesungguhnya aku tinggalkan apayang aku telah aku kumpulkan untuk warisku dan sedikitpun mereka tidak mahu menanggung kesalahanku" . "Adapun didunia, Allah menghisab aku, padahal kamu berasa senang dengan keduniaan. Dan mereka juga tidak mahu mendoakan aku".

Ada satu riwayat drp Abi Qalabah mengenai mimpi beliau yang melihat kubur pecah. Lalu mayat-mayat itu keluar dari duduk di tepi kubur masing-masing. Bagaimanapun tidak seorang pun ada tanda-tanda memperolehi nur di muka mereka. Dalam mimpi itu, Abi Qalabah dapat melihat jirannya juga dalam keadaan yang sama. Lalu diabertanya kepada mayat jirannya mengenai ketiadaan nur itu. Maka mayat itu menjawab: "Sesungguhnya bagi mereka yang memperolehi nur adalah kerana petunjuk drpd anak-anak dan teman-teman. Sebaliknya aku mempunyai anak-anak yang tidak soleh dan tidak pernah mendoakan aku".

Setelah mendengar jawapan mayat itu, Abi Qalabah pun terjaga. Pada malam itu juga dia memanggil anak jirannya dan menceritakan apa yang dilihatnya dalam mimpi mengenai bapa mereka. Mendengar keadaan itu, anak-anak jiran itu berjanji di hadapan Abi Qalabah akan mendoa dan bersedekah untuk bapanya. Seterusnya tidak lama selepas itu, Abi Qalabah sekali lagi bermimpi melihat jirannya. Bagaimanapun kali ini jirannya sudah ada nur dimukanya dan kelihatan lebih terang daripada matahari.

Baginda Rasullullah S.A.W berkata: Apabila telah sampai ajal seseorang itu maka akan masuklah satu kumpulan malaikat ke dalam lubang-lubang kecil dalam badan dan kemudian mereka menarik rohnya melalui kedua-dua telapak kakinya sehingga sampai kelutut. Setelah itu datang pula sekumpulan malaikat yang lain masuk menarik roh dari lutut hingga sampai ke perut dan kemudiannya mereka keluar. Datang lagi satu kumpulan malaikat yang lain masuk dan menarik rohnya dari perut hingga sampai ke dada dan kemudiannya mereka keluar.Dan akhir sekali datang lagi satu kumpulan malaikat masuk dan menarik roh dari dadanya hingga sampai ke kerongkong dan itulah yang dikatakan saat nazak orang itu."

Sambung Rasullullah S.A.W. lagi: "Kalau orang yang nazak itu orang yang beriman, maka malaikat Jibrail A.S. akan menebarkan sayapnya yang di sebelah kanan sehingga orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya di syurga. Apabila orang yang beriman itu melihat syurga, maka dia akan lupa kepada orang yang berada disekelilinginya . Ini adalah kerana sangat rindunya pada syurga dan melihat terus pandangannya kepada sayap Jibrail A.S. "Kalau orang yang nazak itu orang munafik, maka Jibrail A..S. akan menebarkan sayap di sebelah kiri. Maka orang yang nazak tudapat melihat kedudukannya di neraka dan dalam masa itu orang itu tidak lagi melihat orang di sekelilinginya. Ini adalah kerana terlalu takutnya apabila melihat neraka yang akan menjadi tempat tinggalnya.

D ari sebuah hadis bahawa apabila Allah S.W.T. menghendaki seorang mukmin itudicabut nyawanya maka datanglah malaika t maut. Apabila malaikat maut hendak mencabut roh orang mukmin itu dari arah mulut maka keluarlah zikir dari mulut orang mukmin itu dengan berkata: "Tidak ada jalan bagimu mencabut rohorang ini melalui jalan ini kerana orang ini sentiasa menjadik an lidahnya berzikir kepadaAllah S.W.T." Setelah malaikat maut mendengar penjelasan itu, maka dia punkembali kepada AllahS.W.T.dan me njelaskan apa yang diucapkan oleh lidah orang mukmin itu.

Lalu Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud: "Wahai malaikat maut, kamu cabutlah ruhnya dari arah lain." Sebaik saja malaikat maut mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut pun cuba mencabut roh orang mukmin dari arah tangan. Tapikeluarlah sedekah dari arah tangan orang mukmin itu, keluarlah usapan kepala anak-anak yatim dan keluar penulisan ilmu. Maka berkata tangan: Tidak ada jalan bagimu untuk mencabut roh orang mukmin dariarah ini, tangan ini telah mengeluarkan sedekah,tangan in i mengusap kepala anak-anak yatim dan tangan ini menulis ilmu pengetahuan. "Oleh kerana malaikat maut gagal untuk mencabut roh orang mukmin dari arah tangan maka malaikat maut cuba pula dari arah kaki.Malangnya malaikat maut juga gagal melakukan sebab kaki berkata: Tidak ada jalan bagimu dari arah ini Kerana kaki ini sentiasa berjalan berulang alik mengerjakan solat dengan berjemaah dan kaki ini juga berjalan enghadir i majlis-majlis ilmu."Apabila gagal malaikat maut,mencabut roh orang mukmin dari arah kaki, maka malaikat maut cuba pula dari arah telinga. Sebaik saja malaikat maut menghampiri telinga maka telinga pun berkata: "Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana telinga ini sentiasa mendenga r bacaan Al-Quran dan zikir."

Akhir sekali malaikat maut cuba mencabut orang mukmin dari arah mata tetapi baru saja hendak menghampiri mata maka berkata mata: "Tidak ada jalan bagimu dari arah ini sebab mata ini sentiasa melihat beberapa mushaf dan kitab-kitab dan mata ini sentiasa menangis kerana takutkan Allah."

Setelah gagal maka malaikat maut kembali kepada Allah S.W.T. Kemudian Allah S.W .T. berfirman yang bermaksud:"W ahai malaikatKu, tulis AsmaKu ditelapak tanganmu dan tunjukkan kepada roh orang yang beriman itu." Sebaik saja mendapat perintah AllahS.W.T. maka malaikat maut menghampiri roh orang itu danmenunjukkan AsmaAllah S.W.T. Sebaik saja melihat Asma Allah dan cintanya kepada AllahS.W.T maka keluarl! ah roh tersebut dari arah mulut dengan tenang.

Abu Bakar R.A. telah ditanya tentang ke mana roh pergi setelah ia keluar dari jasad. Maka berkata Abu Bakar R.A: "Roh itu menuju ketujuh tempat:-

1. Roh para Nabi dan utusan menuju ke Syurga Adnin.
2. Roh para ulama menuju ke Syurga Firdaus.
3. Roh mereka yang berbahagia menuju ke Syurga Illiyyina.
4. Roh para shuhada berterbangan sepe rti burung di syurga mengikut kehendak mereka.
5.Roh para mukmin yang berdosa akan tergantung di udara tidak di bumi dan tidak di langit sampai hari kiamat.
6. Roh anak-anak orang yang beriman akan berada di gunung dari minyak misik.
7.Roh orang-orang kafir akan berada dalam neraka Sijjin,mereka diseksa berserta jasadnya hingga sampai hari Kiamat."

Telah bersabda Rasullullah S.A.W, Tiga kelompok manusia yang akan dijabat tangannya oleh para malaikat pada hari mereka keluar dari kuburnya:-

1. Orang-orang yang mati syahid.
2. Orang-orang yang mengerjakan solat malam dalam bulan ramadhan.
3. Orang berpuasa di hari Arafah.
 CINTA SEORANG SUAMI (KISAH NYATA)
he's one in a million....
Based on True Story..

Dilihat dari usia beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam. Masa Pak Suyatno, 58 tahun ke sehariannya diisi dengan merawat isterinya yang sakit. isterinya juga sudah tua. Mereka  berkahwin sudah lebih 32 tahun

Mereka dikurniakan 4 orang anak ....disinilah awal cubaan menerpa, setelah isterinya melahirkan anak ke empat .....
tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak boleh digerakkan. Hal itu terjadi selama dua tahun.

Menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang  lidahnyapun sudah tidak mampu digerakkan lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapkan, dan mengangkat isterinya ke atas tempat tidur.      
Sebelum berangkat ke tempat kerja dia meletakkan isterinya di hadapan TV supaya isterinya tidak berasa kesunyian.

Walau isterinya tidak dapat bercakap, tapi dia selalu melihat isterinya tersenyum, dan pak suyatno masih berasa beruntung kerana tempat kerjanya tidak begitu jauh dari rumahnya,
sehingga siang hari dia boleh pulang ke rumah untuk menyuapi isterinya makan. Petangnya dia pulang memandikan isterinya, mengganti pakaian, dan selepas maghrib dia temankan isterinya menonton tv sambil bercerita apa sahaja yang dia alami seharian.

Walaupun isterinya hanya mampu memandang (tidak mampu memberikan respons ), pak suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda dan bergurau dengan isterinya setiap kali menjelang tidur.

Rutin ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan sabar dia merawat isterinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yang masih kuliah.
Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Kerana setelah menikah mereka tinggal dengan keluarga masing-masing.

Dan pak suyatno tetap merawat ibu kepada anak-anaknya, dan yang dia inginkan hanya satu:  semua anaknya berjaya.

Dengan kalimat yang cukup hati2 anak yang sulung berkata : "Pak kami ingin sekali merawat ibu ... Semenjak kami kecil kami melihat bapak merawat ibu dan tidak ada sedikit pun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak izinkan kami menjaga ibu."

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya .....

"Sudah yang kali keempat kami mengizinkan bapak menikah lagi,  kami rasa ibupun akan mengizinkannya. Bila bapak akan menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini ...
kami sudah tidak sampai hati melihat bapak begini... kami berjanji akan merawat ibu dengan sebaik-baiknya secara bergantian," ujar anaknya yang sulung merayu.

Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga oleh anak-anaknya.

"Anak-anakku. .... jikalau  hidup di dunia ini hanya untuk nafsu.... mungkin bapak akan berkahwin lagi.... tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku... . itu sudah lebih dari cukup.  Dia telah melahirkan kalian..."
Sejenak kerongkongannya tersekat..." Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta
yang tidak dapat dinilai dengan apapun.Cuba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti Ini ?

Kalian menginginkan bapak bahagia .... Apakah batin bapak dapat bahagia meninggalkan ibumu dalam keadaannya seperti sekarang ?

Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Allah kesihatan yang baik dirawat oleh orang lain .......bagaimana dengan ibumu yg masih sakit ?

Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak Suyatno...Merekapun  melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata ibunya... Dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu...

Sampailah akhirnya pak Suyatno diundang oleh salah satu stesen TV swasta untuk menjadi panel jemputan acara Bimbingan Rohani Selepas subuh dan juru acara pun mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno...

Kenapa bapak mampu bertahan  selama 25 tahun merawat Isteri yang sudah tidak mampu berbuat apa-apa?

Ketika itu pak Suyatno pun menangis.... tamu yang hadir di studio yang kebanyakan kaum ibu pun tidak mampu menahan haru...

Disitulah pak suyatno bercerita... Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta  tapi dia tidak mencintai kerana Allah  maka semuanya akan luntur...

Saya memilih isteri saya menjadi pendamping hidup saya ....Sewaktu dia sihat diapun dengan sabar merawat saya... Mencintai saya dengan sepenuh hati zahir dan batinnya  bukan dengan mata kepala semata-mata. .. dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu dan baik-baik...

Sekarang dia sakit berkorban untuk saya kerana Allah... Dan itu merupakan ujian bagi saya.

Sihat pun belum tentu saya mencari penggantinya. .. apalagi dia sakit ...  Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya mengadu kepada Allah di atas sajadah supaya meringankan penderitaan isteri saya.

Dan saya yakin hanya kepada Allah tempatsaya mengadukan rahsia dan segala kesukaran saya...kerana DIA maha Mendengar... .


Kisah yang wajar kita teladani.

#SAUDARAKU, DO'AKAN KEBAIKAN BUAT SELURUH KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT BAIK YANG MASIH HIDUP MAUPUN YANG SUDAH WAFAT. INSYA ALLAH SAUDARA JUGA MEMPEROLEH PAHALA DARI KEBAIKAN INI#