Pages

Subscribe:

Sunday, April 18, 2010

 Tanda Hitam Di Dahi Bekas Sujud Apakah itu Tertanda Orang itu Suci dan Bersih Sesuai Hadist Nabi?


Bagaimana bisa seseorang yang berdahi hitam langsung di vonis Riya??sungguh terlalu cepat engkau menuduh saudaramu...

Keadaan kulit seseorang berbeda beda, dan banyak sekali anjuran melamakan sujud dalam hadits2 RosulULLOH, dan menekan ke bumi dengan sungguh-sungguh (lihat sifat Sholat Nabi oleh Syaikh Al-Bani)

Ana minta paparkan Sanad dan Derajat hadits2 yang mengatakan berdahi hitam itu buruk..
apakah itu Shahih atau Dhoif??

berikut artikel Ilmiyah yang ana dapat dari Ustad Hartono Ahmad Jaiz beliau nukil dari salafyitb.wordpress .com, semoga memberi kita rasa adil dalam Menjudge seseorang, karena ada beberapa Asatdz kita yang berjidat hita, secara tidak langsung anta mengatakan bahwa mereka pun tidak Ikhlas, WALLAHU Musta'an
Tanda hitam di dahi..

hartoyo ahmad jaiz
Thu, 15 Nov 2007 03:19:46 -0800

Tanda hitam di dahi ?, tulisan dari salah seorang ikhwan di
salafyitb.wordpress .com mudah2an bisa
memberikan tambahan wawasan...

Simahum fii Wujuhihim Min Atsaris Sujud
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh,

Saudara sekalian, saya yakin kita semua pernah melihat seseorang
yang kita kenal religius (multazim) memiliki tanda legam, atau hitam
samar di dahinya atau bagian diatas hidungnya.Yakni bekas tanda sujud
(atsar as-sujud).Silahkan simak, dan koreksi.Apakah benar ini lambang
keshalehan dan kebaikan seseorang?Bagaimana jika kita tidak punya tanda
ini,patutkah kita bersedih?Atau patutkan kita memiliki rasa bangga dan
riya bagi yang memiliki bekas tanda sujud di dahi/jidat kita?

Allahu ta’ala berfirman dalam surat Al-Fath ayat 29:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama
dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih
sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia
Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari
bekas sujud .
Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka
dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka
tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan
tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati
penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang
kafir . Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang
besar”

Kalimat yang di bold diatas sesuai dengan subject tulisan ini yakni berbunyi
سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

Al-Imam Ibnu Jarir At-thabari rahimahullah berkata mengenai ucapan Allah :
Simahum fii Wujuhihim Min Atsaris Sujud .Kata beliau rahimahullah yakni
:”tanda-tanda mereka di wajah-wajah mereka dari bekas-bekas sholat mereka”

Ahli tafsir berbeda pandangan dalam menafsirkan makna “As-Sima” (tanda-tanda)
yang Allah ta’ala maksudkan dalam ayat ini.

Pendapat pertama:Tanda yang dimaksud adalah tanda-tanda
yang Allah jadikan di wajah-wajah kaum mukminin dihari kiamat
kelak,mereka dikenali karena bekas sujudnya di dunia.

Diantara yang berpendapat dengan pendapat diatas diantaranya adalah sebagai
berikut:

1. حدثني محمد بن سعد , قال : ثني أبي , قال : ثني عمي , قال : ثني أبي ,
عن أبيه , عن ابن عباس { سيماهم في وجوههم من أثر السجود } قال : صلاتهم
تبدو في وجوههم يوم القيامة

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu, beliau berkata mengenai ayat “Simahum fi
wujuhihim min atsaris sujud”: Sholat mereka yang nampak pada wajah-wajah mereka
di hari kiamat

2. عن خالد الحنفي , قوله : { سيماهم في وجوههم من أثر السجود } قال :
يعرف ذلك يوم القيامة في وجوههم من أثر سجودهم في الدنيا , وهو كقوله : {
تعرف في وجوههم نضرة النعيم }

Khalid Al-Hanafiy, dia berkata bahwa mereka dikenal dihari kiamat
pada wajah-wajah mereka dari bekas sujud didunia.Ini seperti ucapan
Allah “ta’rifu fi wujuhihim nadhrotan na’im” (Kamu dapat mengetahui dari wajah
mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan-Al- Muthoffifin 24)

3. حدثني عبيد بن أسباط بن محمد , قال : ثنا أبي , عن فضيل بن مرزوق ,
عن عطية , في قوله : { سيماهم في وجوههم من أثر السجود } قال : مواضع
السجود من وجوههم يوم القيامة أشد وجوههم بياضا

Dari ‘Athiyah(?), dia menjelaskan maksudnya :”Tempat-tempat sujud di
wajah-wajah mereka di hari kiamat sangat putih”

4. حدثنا ابن عبد الأعلى , قال : ثنا المعتمر , قال : سمعت شبيبا يقول
عن مقاتل بن حيان , قال : { سيماهم في وجوههم من أثر السجود } قال : النور
يوم القيامة

Dari Muqotil bin Hayan, beliau menafsirkan “Cahaya di hari kiamat”

5. حدثنا ابن سنان القزاز , قال : ثنا هارون بن إسماعيل , قال : قال
علي بن المبارك : سمعت غير واحد عن الحسن , في قوله : { سيماهم في وجوههم
من أثر السجود } قال : بياضا في وجوههم يوم القيامة .

Al-Hasan menjelaskan maksudnya :”Putihnya wajah-wajah mereka dihari
kiamat”.Pendapat ini pula yang dinisbatkan kepada Ibnu Zubair (lihat
penjelasan imam al-Qurtubi dalam tafsirnya) .Tapi Al-Hasan juga
disebutkan dalam Tafsir Imam Quthubi mengatakan Idza roaytahum
hasibtahum mardho wa ma hum bi mardho (Jika engkau melihatnya akan kau
kira mereka sedang sakit, padahal mereka tidak sakit)

Pendapat kedua:Tanda yang dimaksud adalah tanda-tanda keislaman,kekhusyu’an dan
bisa saja dapat dilihat didunia.

Diantara yang berpendapat demikian diantaranya:

1. حدثنا علي , قال : ثنا أبو صالح , قال : ثني معاوية , عن علي , عن ابن عباس ,
في قوله : { سيماهم في وجوههم } قال : السمت الحسن

Perkataan Ibnu Abbas yang lain, beliau mengatakan maksud “simahum fi
wujuhihim” yakni samt (penanda) yang baik.Ini bisa diliat juga dalam
tafsir Ibn Katsir.

2. حدثنا ابن بشار , قال : ثنا أبو عامر , قال : ثنا سفيان , عن حميد
الأعرج , عن مجاهد { سيماهم في وجوههم من أثر السجود } قال : الخشوع
والتواضع

Dari Mujahid beliau berkata tentang ayat ini,maksudnya khusyu’ dan tawadhu’.
Mujahid juga pernah ditanya sebagaiamana disebutkan dalam tafsir Imam
Qurthubi, apakah tanda ini yang nampak pada diantara kedua bagian mata
seorang lelaki, kata beliau bukan tetapi kadang bisa saja ada tanda
itu,sesungguhnya adalah cahaya pada wajah-wajah mereka karena khusyu’

3. حدثنا ابن حميد , قال : ثنا جرير , عن منصور , عن مجاهد , في قوله :
{ سيماهم في وجوههم من أثر السجود } قال : هو الخشوع , فقلت : هو أثر
السجود , فقال : إنه يكون بين عينيه مثل ركبة العنز , وهو كما شاء الله

Dari Ibnu Humaid ….dari Mujahid,maksud dari “Simahum fi wujuhihim min
atsaris sujud” adalah Khusyu’.Bisa dilihat juga di Tafsir Ibn Katsir.

4.وقال شهر بن حوشب : يكون موضع السجود من وجوههم كالقمر ليلة البدر

Berkata Syahr bin Hawsyab(?) : Adalah tempat sujud dari wajah-wajah mereka
seperti bulan malam purnama

5.قال شمر بن عطية : هو صفرة الوجه من قيام الليل

Berkata Syamr bin ‘Athiyah : Yakni kuning wajahnya akibat qiyamul
lail.Ad-Dhohak juga berkata semisal ini.

Berkaitan dengan pendapat nomor 2 ini, dalam tafsir Ibnu Katsir
disebutkan pula akan hubungan ini.Kata beliau rahimahullah, sebagian
salaf mengatakan “Man katsuro sholatuhu bil lail hasuna wajhuhu bin nahar”
(siapa yang banyak sholat malam, akan nampak wajahnya yang bagus di
siang harinya).Bahkan ucapan ini adalah hadist mauquf olehh Imam Ibnu
Majah dalam sunannya.

Sebagian salaf juga mengatakan “innal lil hasanah nuuron fil qolbi, wa dhiya’ a
fil wajhi wa si’atan fir rizqi wa mahabatan fi qulubin naas”
(sesungguhnya bagi kebaikan itu ada cahaya di hati, cerah di wajah,
kelapangan rezeki, serta rasa cinta di hati-hati manusia).Sampai sini
saya teringat pembahasan yang bagus dari Ustad Abdul Hakim Abdat dalam
sebuah kaset yang pernah saya dengar sekitar 8 tahun lalu mengenai
tafsir ayat “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh,
kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam mereka rasa kasih
sayang” (QS Maryam ayat 96).Coba didengar tapi entah apa masih
diperjualbelikan kaset ini atau tidak.

Masih dalam tafsir ibn katsir,diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiallah
anhu, kata beliau: “Man ashlaha sariritahu ashlahallahu ta’ala ‘alaniyatahu”
(siapa yang membaguskan (amalan) yang tersembunyinya, maka Allah akan baguskan
penampakan dzahirnya)

Maka para sahabat Rasulullah, mereka ikhlas niatnya serta baik
amalnya maka setiap orang yang melihatnya akan terkagum akan samt dan
ketenangannya.

Pendapat ketiga:Tanda yang dimaksud adalah tanda sujud pada wajah bekas debu
tanah.

Diantara yang berpendapat ini antara lain pendapat Ikrimah :

حدثنا ابن سنان القزاز , قال : ثنا هارون بن إسماعيل , قال : ثنا علي بن
المبارك , قال : ثنا مالك بن دينار , قال : سمعت عكرمة يقول : { سيماهم في
وجوههم من أثر السجود } قال : هو أثر التراب

Kata beliau maksudnya adalah jejak tanda tanah (debu).Pendapat hampir serupa
ini dinisbatkan pada Said bin Zubair

Yang rajih dalam pandangan mengenai makna “simahum fi wujuhihim min atsar
as-sujud”
adalah pendapat yang mengatakan bahwa ini cahaya ketaatan dan
ibadah.Adapun tanda yang bisa saja muncul bukanlah tanda mutlak
keshalehan seseorang atau keikhlasannya. Bukan pula dalil bagi yang
tidka memiliki tanda ini sebagai rang yang kurang dalam keshalehan atau
keikhlasannya. Karena ini hanya Allah ta’ala yang mengetahuinya.

Sebagaimana Pendapat Al-Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah ta’ala

سئل فضيلة الشيخ: هل ورد أن العلامة التي يحدثها السجود في الجبهة من علامات
الصالحين ؟

Syaikh Utsaimin ditanya apakah ada keterangan bahwa alamat bekas tanda sujud di
jidat sebagai alamat orang sholeh

فأجاب فضيلته بقوله :

ليس هذا من علامات الصالحين ، وإنما هو النور الذي يكون في الوجه ،
وانشراح الصدر ، وحسن الخلق . . . وما أشبه ذلك ، أما الأثر الذي يسببه
السجود في الوجه فقد تظهر في وجوه من لا يصلون إلا الفرائض لرقة الجلد ،
وقد لا تظهر في وجه من يصلي كثيراً ويطيل السجود .

Syaikh menjawab, ini bukan (mutlak) tanda orang sholeh.Hanya saja ini
yang dimaksud adalah cahaya yang nampak pada wajah,lapang dada, dan
akhlak yang baik..dan yang semisal dengannya…..adapun bekas tanda
akibat sujud pada wajah maka bisa juga tampak pada orang tidak sholat
kecuali sholat wajib saja.Karena jenis kulit yang tipis.Dan terkadang
juga tidak muncul pada orang yang banyak sholat serta sujudnya lama.

(Fatawa Islamiyah 484/1 atau bisa di lihat di http://www.binothai meen.com

Sebab-sebab adanya bekas sujud

1.Menumpu kan berat anggota badan pada jidat atau hidungnya.Bisa
diakibatkan tidak merenggangnya kedua tangan ketika menumpu pada saat
sujud.Padahal Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam mengatakan merenggangkan
kedua tangannya hingga nampak putihnya ketiak beliau ( يفرج بين يديه
حتى يبدو بياض إبطيه في سجوده )sebagaimana diriwayatkan as-shohihain dan
selainnya

2.Jenis tumpuan tempat sujud yang digunakan.Walaupun tidak menekan
terlalu keras di jidat ketika sujud, namun apabila dia sujud diatas
hamparan yang kasar/keras dan berlama-lama sujud maka akan tampak
bekasnya.

(Note : Dalam beberapa hadist ada anjuran mengenai berlama-lama sujud
khususnya dalam sholat sendiri atau qiyamu lail,bukan disini
perluasannya)

3.Memperlama sujud dalam qiyamu lail atau sholat sunnah.Bisa karena
pengamalan atas anjuran Nabi untuk memperbanyak doa ketika sujud atau
bisa saja mengamalkan anjuran lain untuk ilhah dalam doa

4.Jenis kulit manusia berbeda beda.Maka seseorang yang memiliki
kulit yang agak tipis, maka akan mudah membekas dari tanda sujud
ini.Olehkarenanya ada yang sholatnya lama dan banyak, namun tidak pula
membekas adanya tanda sujud dijidatnya.

Kesimpulan

Kita tidak bisa sama rata dalam menghukumi seseorang yang nampak
padanya bekas sujud di dahinya.Dan tulisan ini bukan pula sebuah
larangan atau kejelekan bagi yang nampak padanya bekas sujud.Juga
janganlah hal ini menimbulkan riya,kebanggan bagi seseorang yang
demikian terhadap manusia lain yang tidak demikian.Allahu ta’ala a’lam

Abu Umair As-Sundawy
10 Surah yang Mujarab dari Nabi Muhammad s.a.w


1. SURAH AL-FATIHAH

Amalkan membaca Surah Al-Fatihah semasa hendak tidur diikuti dengan membaca Surah Al-Ikhlas 3 kali, Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas. Insya'Allah akan aman tenteram dan terjauh daripada gangguan syaitan. Dianjurkan juga membaca surah ini sebanyak 44 kali untuk mengubati sakit mata, perut, gigi dan lain-lainnya dengan izin Allah s.w.t. Untuk mencegah kemarahan Allah, bacalah surah ini sebanyak 17 kali sehari iaitu dengan mengerjakan solat 5 waktu.

2. SURAH YAASIN

Telah bersabda Rasulullah s.a.w., sesungguhnya bagi setiap sesuatu itu ada hati, dan hati Al-Qur'an ialah Surah Yaasin iaitu jantung Al-Qur'an. Sesiapa yang membaca Surah Yaasin, nescaya dituliskan oleh Allah pahala menyamai sepuluh kali membaca Al-Qur'an seluruhnya. (Hadis riwayat At-Tarmizi dari Anas r.a.) Rasulullah s.a.w. juga bersabda : Surah Yaasin dinamakan di dalam kitab Taurat dengan sebutan "At-Mu'ammah" (yang umum), yang mengumumkan pembacanya dengan kebaikan dunia dan akhirat, menanggung segala bala baik dari kesusahan di dunia mahu pun akhirat. Pembaca juga akan dilindungi dari setiap keburukan dan kejahatan serta segala hajat dan kemahuan akan Allah kabulkan. Jika dibaca dalam satu malam semata-mata mengharapkan keredaan Allah, nescaya Allah akan mengampunkan dosanya. (Hadis riwayat Malik, Ibnu-Sunni dan Ibnu Hibban). Surah Yaasin ni juga jika diamalkan, akan terselamatlah kita dari kehausan di hari KIAMAT.

3. SURAH AT-DHUHAN

 Dibaca sekali pada malam Jumaat agar kita terselamat dari huru hara di Padang Mahsyar.

4. SURAH AL-WAQI'AH

Menurut beberapa hadis Rasulullah s.a.w., mereka yang mengamalkan membaca Surah Al-Waqi'ah pada tiap-tiap malam, insya'Allah tidak akan merasai kepapaan. Mereka yang membacanya sebagai wirid, insya'Allah akan beroleh kesenangan selama-lamanya. Mereka yang membacanya sebanyak 14 kali setiap lepas solat As ar, insya'Allah akan dikurniakan dengan rezeki yang banyak. Selepas solat Isyak, ambillah segelas air lalu bacalah Surah Al-Fatihah sekali, Ayatul Qursi sekali dan Surah Al-Waqi'ah ayat 35-38 sebanyak 7 kali. Tiup dalam air dan minum. Dalam hati, niat untuk menjaga kecantikan diri dan kebahagiaan rumahtangga kita. Makna Surah Al-Waqi'ah Ayat 35-38 ialah : "Sesungguhnya, Kami telah menciptakan isteri-isteri mereka dengan ciptaan istimewa. Serta Kami jadikan mereka sentiasa dara (yang tidak pernah disentuh), yang tetap mencintai jodohnya serta yang sebaya dengan umurnya.

5. SURAH AL-KHAUTHAR

Sesiapa yang mengamalkan membaca surah ini sebanyak 1,000 kali, maka Allah s.w.t. akan menghasilkan hajatnya termasuk rezeki dan kenaikan pangkat. Sesiapa yang membaca 1,000 kali juga selepas solat Isyak hingga dia tertidur, insya'Allah dia dapat melihat Rasulullah s.a.w. dalam tidurnya.
 
6. SURAH AL-KHAAFIRUUN

Sesiapa yang membaca Surah Al-Khaafiruun, maka bandingannya seperti membaca seperempat Al-Qur'an, disamping terlepas dari syirik, terjauh dari godaan syaitan dan terlepas dari peristiwa yang mengejutkan (Riwayat At-Tarmizi). Sebelum tidur, bacalah surah ini agar kita mati dalam iman serta membersihkan kotoran dalam diri kita.
7. SURAH AL-MULK

Sebuah lagi Surah dari Al-Qur'an iaitu Surah Al-Mulk mempunyai fadilat dan faedah yang amat besar bagi sesiapa yang mengamalkan membacanya. Menurut beberapa hadis Rasulullah s.a.w., mereka yang mengamalkan membaca akan surah ini, akan mendapat syafaat dan keampunan dosa-dosanya. Mereka yang membacanya pada setiap malam, insya'Allah, akan terselamat dari azab kubur..

8. SURAH AL-IKHLAS

Rasulullah s.a.w. pernah bersabda kepada isteri kesayangan baginda, Siti Aisyah, antara mafhumnya : "Wahai Aisyah isteri ku, sebelum kamu tidur, khatamlah dulu Al-Qur'an." Siti Aisyah lalu berkata, "Wahai suami ku, saya tidak mampu khatam Al-Qur'an sebanyak 30 juzuk itu." Apabila mendengar kata-kata Siti Aisyah tersebut, Rasulullah s.a.w. sambil tersenyum lalu menjawab, "Barangsiapa yang membaca 3 kali sebelum tidur, seolah-olah ia telah khatam Al-Qur'an keseluruhannya. " Dari Rasulullah s.a.w.. pernah bersabda kepada Saidina Ali r.a., "Sesiapa hendak pergi musafir, kemudian ketika dia hendak meninggalkan rumahnya, ia membaca surah Al-Ikhlas 11 kali, maka Allah memelihara rumahnya sampai ia kembali. Ibnu Said Al-Khanafi menerangkan : "Surah ini dinamakan Surah Al-Ikhlas, ertinya bersih atau lepas. Maka barang siapa yang membacanya dan mengamalkannya dengan hati yang ikhlas, maka ia akan dilepaskan kesusahan duniawi, dimudahkan di dalam gelombang sakratulmaut, dihindarkan dari kegelapan kubur dan kengerian hari kiamat."

 9. SURAH AL-FALAQ

Siti Aisyah menerangkan : "Bahawa Rasulullah s.a.w. pada setiap malam apabila hendak tidur, Baginda membaca Surah Al-Ikhlas, Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas lalu ditiupkan pada kedua telapak tangan, kemudian disapukan keseluruh tubuh dan kepala. Barang siapa terkena penyakit kerana perbuatan syaitan atau manusia, hendaklah membaca Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas sebanyak 41 kali selama 3 hari, 5 hari atau 7 hari berturut-turut. Barang siapa yang takut akan godaan syaitan dan manusia, takut dalam kegelapan malam atau takut dengan kejahatan manusia, bacalah Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas sebanyak 100 kali.

10. SURAH AN-NAS

Surah An-Nas adalah surah yang terakhir (ke-114) dalam Al-Qur'an. Nama An-Nas diambil dari kata An-Nas yang berulang kali disebut dalam surah ini yang bermaksud manusia. Surah ini termasuk dalam golongan surah makkiyah. Isi surah ini adalah bagi menganjurkan manusia memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan baik yang berasal dari golongan manusia mahu pun jin. Surah An-Nas ini juga adalah penerang hati
19 KEISTIMEWAAN WANITA

1. Doa wanita itu lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah SAW akan hal tersebut, jawab baginda , " Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia."

2. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1000 lelaki yang soleh.

3. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, darjatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah .Dan orang yang takutkan Allah SWT akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

4. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah SAW) di dalam syurga.

5. Barangsiapa membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya) maka pahalanya seperti melakukan amalan bersedekah.Hendakla h mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail.

6. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.

7. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta sikap bertanggungjawab, maka baginya adalah syurga.

8. Apabila memanggil akan dirimu dua orang ibu bapamu, maka jawablah panggilan ibumu terlebih dahulu.

9. Daripada Aisyah r.a." Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.

10. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutuplah pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pun pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

11. Wanita yang taat pada suaminya, maka semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga solat dan puasanya.

12. Aisyah r.a berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita?" Jawab Rasulullah SAW "Suaminya." " Siapa pula berhak terhadap lelaki?" Jawab Rasulullah SAW, "Ibunya."

13. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta kepada suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki.

14. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah SWT memasukkan dia ke dalam syurga terlebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).

15. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya,maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.

16. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah SWT mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.

17. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

18. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.

19. Apabila semalaman seorang ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah SWT.


6 JENIS WANITA MALANG

“Jangan engkau kahwini wanita yang enam, jangan yang Ananah, yang Mananah, dan yang Hananah, dan jangan engkau kahwini yang Hadaqah, yang Baraqah dan yang Syadaqah.”

Wanita Ananah:banyak mengeluh dan mengadu dan tiap saat memperalatkan sakit atau buat-buat sakit.

Wanita Mananah:suka membangkit-bangkit terhadap suami. Wanita ini sering menyatakan, “Aku membuat itu keranamu”.

Wanita Hananah: menyatakan kasih sayangnya kepada suaminya yang lain, yang dikahwininya sebelum ini atau kepada anaknya dari suami yang lain.

Wanita Hadaqah: melemparkan pandangan dan matanya pada tiap sesuatu, lalu menyatakan keinginannya untuk memiliki barang itu dan memaksa suaminya untuk membelinya.

Wanita Baraqah: ada 2 makna, pertama yang sepanjang hari mengilatkan dan menghias mukanya, kedua dia marah ketika makan dan tidak mahu makan kecuali sendirian dan diasingkannya bahagianya.

Wanita Syadaqah: banyak cakap tidak menentu lagi bising.

Dicatat oleh Imam Al-Ghazalli
 SHALAT JUM'AH DI MASJIDIL HARAM
 
Subhanallah, Allahu Akbar!
memang hanya agama Islam dan umat Islam yg bisa begini.....
---
 
 

Padat.....

 
Sampai di jalanraya Solat Jumaat depan Hotel Lee Meriddien..masyaala h
SHALAT TASBIH

Oleh
Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul

Diantara shalat yang disyariatkan adalah shalat tasbih, yaitu seperti yang disebutkan di dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berikut ini.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Abbas bin Abdil Muththalib :”Wahai Abbas, wahai pamanku, maukah engkau jika aku memberimu ? Maukah engkau jika aku menyantunimu? Maukah engkau jika aku menghadiahkanmu? Maukah engkau jika aku berbuat sesuatu terhadapmu? Ada sepuluh kriteria, yang jika engkau mengerjakan hal tersebut, maka Allah akan memberikan ampunan kepadamu atas dosa-dosamu, yang pertama dan yang paling terakhir, yang sudah lama maupun yang baru, tidak sengaja maupun yang disengaja, kecil maupun besar, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Sepuluh kriteria itu adalah : Hendaklah engkau mengerjakan shalat empat rakaat ; yang pada setiap rakaat engkau membaca surat al-Fatihah dan satu surat lainnya. Dan jika engkau sudah selesai membaca di rakaat pertama sedang engkau masih dalam keadaan berdiri, hendaklah engkau mengucapkan : subhanallah, walhamdulillah, walailaha illallah, wallahu akbar (Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Ilah (yang haq) selain Allah, dan Allah Maha Besar) sebanyak lima belas kali. Kemudian ruku, lalu egkau membacanya sepuluh kali sedang engkau dalam keadaan ruku. Lalu mengangkat kepalamu dari ruku seraya mengucapkannya sepuluh kali. Selanjutnya, turun bersujud, lalu membacanya sepuluh kali ketika dalam keadaan sujud. Setelah itu, mengangkat kepalamu dari sujud seraya mengucapkannya sepuluh kali. Kemudian bersujud lagi dan mengucapkannnya sepuluh kali. Selanjutnya, mengangkat kepalamu seraya mengucapkannya sepuluh kali. Demikian itulah tujuh puluh lima kali setiap rakaat. Dan engkau melakukan hal tersebut pada empat raka’at, jika engkau mampu mengerjakannya setiap hari satu kali, maka kerjakanlah. Dan jika engkau tidak bisa mengerjakannya setiap hari maka kerjakanlah setiap jum’at satu kali. Dan jika tidak bisa, maka kerjakanlah sekali setiap bulan. Dan jika tidak bisa, maka kerjakanlah satu kali setiap tahun. Dan jika tidak bisa juga, maka kerjakanlah satu kali selama hidupmu” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. [1]

Dapat saya katakan, berikut ini beberapa manfaat yang berkaitan dengan hadits shalat tasbih.

Pertama : Khithab di dalam hadits ini ditujukan kepada Al-Abbas, tetapi hukumnya berlaku umum, bagi setiap orang muslim. Sebab, landasan dasar dalam khithab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah umum dan tidak khusus.

Kedua ; Sabda beliau di dalam hadits di atas : “Niscaya Allah akan memberikan ampunan kepadamu atas dosa-dosamu, yang pertama dan yang terakhir, lama dan baru, sengaja dan tidak disengaja, kecil maupun besar, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan” , adalah sepuluh kriteria.

Jika ada yang mengatakan : “Sabda beliau ; Sengaja maupun tidak sengaja, kata al-khatha’ di sini berarti yang tidak berdosa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau bersalah” [Al-Baqarah : 286]

Lalu bagaimana Allah menjadikannya termasuk ke dalam perbuatan dosa?

Jawabnya : Di dalam kata al-khatha’ itu terkandung kekurangan atau ketidak sempurnaan, sekalipun tidak mengandung dosa. Dan shalat ini memiliki pengaruh tersebut.

Ketiga : Di dalam kitab, At-Tanqiih Limma Jaa-a fii Shalaatit Tasbiih, dia mengatakan : “Ketahuilah, mudah-mudahan Allah merahmatimu, bahwa hadits-hadits yang menyuruh mengerjakan amal-amal yang mencakup pengampunan dosa seperti ini tidak semestinya bagi seorang hamba untuk bersandar kepadanya, lalu membebaskan dirinya untuk mendekati perbuatan dosa. Kemudian dia beranggapan, jika dia melakukan suatu perbuatan, niscaya semua dosanya akan diampuni. Dan ini merupakan puncak dari kebodohan dan kepandiran. Apa yang membuatmu yakin, hai orang yang tertipu, bahwa Allah akan menerima amalmu itu dan selanjutnya akan mengampuni dosa-dosamu? Sedang Allah Azza wa Jalla telah berfirman.

“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa” [Al-Ma’idah : 27]

Perhatikan dan camkanlah hal tersebut. serta ketahuilah bahwa pintu masuk syaitan ke dalam diri manusia itu cukup banyak. Berhati-hatilah, jangan sampai syaitan memasuki dirimu melalui pintu ini

Dan Allah telah menyifati hamba-hambaNya yang beriman sebagai orang-orang yang mengerjakan amal shalih serta senantiasa berusaha berbuat taat kepadaNya. Namun demikian, hati mereka masih saja gemetar dan khawatir jika amal mereka tidak diterima sehingga ditimpakan siksaan ke wajah mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka, mereka itu bersegera untuk melakukan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya” [Al-Mu’minun : 60-61]

Dan apa yang kami kisahkan di dalam menafsirkan ayat ini merupakan pendapat mayoritas ahli tafsir

Di dalam kitab Al-Jaami (XII/132) Al-Qurthubi menyebutkan dari Al-Hasan, bahwasanya dia mengatakan : “Kami pernah mengetahui beberapa orang yang takut kebaikan mereka akan ditolak, (merasa) lebih prihatin daripada kalian yang tidak takut diadzab atas perbuatan dosa kalian”

Dan ketahuilah bahwa dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-hak manusia tidak tercakup ke dalam hadits di atas. Namun demikian, suatu keharusan untuk mengembalikan hak kepada pemiliknya, serta bertaubat dari hal tersebut dengan taubat nasuha’ [2]

Keempat : Tidak disebutkan penetapan bacaan dalam rakaat-rakaat tersebut dan tidak juga penetapan waktu pelaksanaannya

Kelima ; Lahiriyah hadits menyebutkan bahwa shalat tasbih itu dikerjakan dengan satu salam, baik malam hari maupun siang hari, sebagaimana yang dikemukakan oleh Al-Qari di dalam kitab Al-Mirqaat dan Al-Mubarakfuri di dalam kitab At-Tuhfah (I/349).

Keenam : Yang tampak adalah bacaan dzikir yang diucapkan sepuluh kali sepuluh kali itu diucapkan setelah dzikir yang ditetapkan di tempatnya masing-masing. Artinya, di dalam ruku’ dzikir-dzikir itu dibaca setelah dzikir ruku yang diucapkan sebanyak sepuluh kali, dan setelah ucapan : Sami’allaahu liman hamidah, Rabbana lakal hamdu, dan juga berdiri dari ruku dibaca sebanyak sepuluh kali. Demikianlah, hal itu dilakukan di setiap tempat masing-masing.

Ketujuh : Jika melakukan kelupaan dalam shalat ini, lalu mengerjakan dua sujud sahwi, maka dia tidak perlu lagi mengucapkan tasbih sepuluh kali seperti sujud-sujud shalat lainnya

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (II/350) dari Abdul Aziz bin Abi Razmah, dia bercerita, kukatakan kepada Abdullah Ibnul Mubarak :”Jika melakukan kelupaan dalam shalat itu, apakah dia perlu bertasbih sepuluh kali sepuluh kali di dalam dua sujud sahwi?” Dia menjawab :”Tidak, karena ia berjumlah tiga ratus kali tasbih” [3]

[Disalin dari kitab Bughyatul Mutathawwi Fii Shalaatit Tathawwu, Edisi Indonesia Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Penulis Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i]
__________
Foote Note
[1]. Hadits hasan lighairihi. Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Kitaabush Shalaah, bab Shalaatut Tasbiih, (hadits no. 1297), an lafazh di atas adalah miliknya. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam kitab Iqaamatush Shalaah wa Sunnah Fiihaa, bab Maa Jaa-a fii Shalaatit Tasbih, (hadits no. 1386).
Hadits ini dinilai kuat oleh sekelompok ulama, yang diantaranya adalah Abu Bakar Al-Ajurri, Abul Hasan Al-Maqdisi, Al-Baihaqi, dan yang sebelum mereka adalah Ibnul Mubarak. Demikian juga dengan Ibnus Sakan, An-Nawawi, At-Taaj As-Subki, Al-Balqini, Ibnu Nashiruddin Ad-Dimsyiqi, Ibnu Hajar, As-Suyuthi, Al-Laknawi, As-Sindi, Az-Zubaidi, Al-Mubarakfuri penulis kitab At-Tuhfah, dan Al-Mubarakfuri penulis kitab Al-Mir’aat dan Al-Allamah Ahmad Syakir serta Al-Albani dari kalangan orang-orang terakhir. Lihat juga kitab Risaalatut Tanqiih Limaa Jaa-a Fii Shaalatit Tasbiih, Jasim Ad-Dausari (hal 64-70)
[2]. At-Tanqiih Limaa Jaa-a Fii Shalaatit Tasbiih (hal.101-102)
[3]. Seluruh manfaat di atas selain yang pertama diambilkan dari risalah At-Tanqiih Limaa Jaa-a Fii Shalaatit Tasbiih (hal.100-107)
MUHARRAM (SURO) BULAN KERAMAT ?

Oleh
Ustadz  Abu Nu’aim Al-Atsari
http://www.almanhaj .or.id/content/ 2036/slash/ 0

Muharram (Suro) dalam kacamata masyarakat, khususnya Jawa, merupakan
bulan keramat. Sehingga mereka tidak punya keberanian untuk
menyelenggarkan suatu acara terutama hajatan dan pernikahan. Bila tidak
di indahkan akan menimbulkan petaka dan kesengsaraan bagi mempelai
berdua dalam mengarungi bahtera kehidupan. Hal ini diakui oleh seorang
tokoh keraton Solo. Bahkan katanya : “Pernah ada yang menyelenggarakan
pernikahan di bulan Suro (Muharram), dan ternyata tertimpa musibah!”.
Maka kita lihat, bulan ini sepi dari berbagai acara. Selain itu, untuk
memperoleh kesalamatan diadakan berbagai kegiatan. Sebagian masyarakat
mengadakan tirakatan pada malam satu Suro (Muharram), entah di tiap
desa, atau tempat lain seperti puncak gunung. Sebagiannya lagi
mengadakan sadranan, berupa pembuatan nasi tumpeng yang dihiasi aneka
lauk dan kembang lalu di larung (dihanyutkan) di laut selatan disertai
kepala kerbau. Mungkin supaya sang ratu pantai selatan berkenan
memberikan berkahnya dan tidak mengganggu. Peristiwa seperti ini dapat
disaksikan di pesisir pantai selatan seperti Tulungagung, Cilacap dan
lainnya.

Acara lain yang menyertai Muharram (Suro) dan sudah menjadi tradisi
adalah kirab kerbau bule yang terkenal dengan nama kyai slamet di
keraton Kasunanan Solo. Peristiwa ini sangat dinantikan oleh warga Solo
dan sekitarnya, bahkan yang jauhpun rela berpayah-payah. Apa tujuannya
? Tiada lain, untuk ngalap berkah dari sang kerbau, supaya rizki
lancar, dagangan laris dan sebagainya. Naudzubillahi min dzalik.
Padahal kerbau merupakan symbol kebodohan, sehingga muncul peribahasa
Jawa untuk menggambarkannya : “bodo ela-elo koyo kebo”. Acara lainnya
adalah jamasan pusaka dan kirab (diarak) keliling keraton.

Itulah sekelumit gambaran kepercayaan masyarakat khususnya Jawa
terhadap bulan Muharram (Suro). Mungkin masih banyak lagi tradisi yang
belum terekam disini. Kelihatannya tahayul ini diwarisi dari zaman
sebelumnya mulai animisme, dinamisme, hindu dan budha. Ketika Islam
datang keyakinan-keyakinan tersebut masih kental menyertai
perkembangannya. Bahkan terjadi sinkretisasi (pencampuran) . Ini bisa
dicermati pada sejarah kerajaan-kerajaan Islam di awal pertumbuhan dan
perkembangan selanjutya, hingga dewasa ini ternyata masih menyisakan
pengaruh tersebut.

Namun kepentingan kepada Muharram (Suro) ini tidak dimonopoli oleh suku
atau bangsa tertentu. Syi’ah umpamanya, -mayoritas di Iran, meskipun di
Indonesia sudah meruyak di berbagai sudut kota dan desa-, memiliki
keyakinan tersendiri tentang Muharram (Suro). Terutama pada tanggal 10
Muharram, mereka mengadakan acara akbar untuk memperingati dan menuntut
bela atas meninggalnya Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib di Karbala.
Seperti dikatakan oleh Musa Al-Musawi tokoh ulama mereka : “Belum
pernah terjadi sepanjang sejarah adanya revolusi suci yang dikotori
kaum Syi’ah dengan dalih mencintai Husain” Perbuatan buruk itu setiap
tahun masih terus dilakukan kaum Syi’ah, terutama di Iran, Pakistan,
India dan Nabtiyah di Libanon. Peritiwa ini sempat menimbulkan
pertikaian berdarah anyara Syi’ah dan Ahlus Sunnah di beberapa daerah
di Pakistan yang menelan korban ratusan jiwa yang tidak bersalah dari
kedua belah pihak. [Lihat Mengapa Kita Menolak Syi’ah, LPPI hal. 85]

Dikatakan pula : “Orang-orang Syi’ah setiap bulan Muharram memperingati
gugurnya Imam Husain di Karbala tahun 61H, peringatan tersebut
dilakukan dengan cara berlebih-lebihan. Dari tanggal 1 Muharram sampai
9 Muharram diadakan pawai besar-besaran di jalan-jalan menuju ke
Al-Husainiyah. Peserta pawai hanya mengenakan sarung saja sedang
badanya terbuka. Selama pawai mereka memukul-mukul dada dan punggungnya
dengan rantai besi sehingga luka memar. Acara puncak dilakukan dengan
melukai kepala terutama dahinya sehingga berlumuran darah. Darah yang
mengalir ke kain putih yang dikenakan sehingga tampak sangat mencolok.
Suasana seperti itu membuat mereka yang hadir merasa sedih, bahkan
tidak sedikit yang menangis histeris. [Lihat Mengapa Kita Menolak
Syi’ah, LPPI, hal. 51]

Mengapa mereka begitu ekstrim ? Karena ziarah ke kuburan Al-Husain
merupakan amalan yang mereka anggap paling mulia. Dalam kitab mereka
semisal Furu’ul Kafi oleh Al-Kulani, Man La Yahdhuruhul Faqiihu oleh
Ibnu Babawih dan kitab lainnya, diriwayatkan : “… Barangsiapa
mendatangi kubur Al-Husain pada hari Arafah dengan mengakui haknya maka
Allah akan menulis baginya seribu kali haji mabrur, seribu kali umrah
mabrur dan seribu kali peperangan bersama Nabi yang diutus dan imam
yang adil”. Dalam kitab Kamiluzaroot dan Bahirul Anwar disebutkan “
Ziarah kubur Al-Husain merupakan amalan yang paling mulia”, riwayat
lainnya, “Termasuk amalan yang paling mulia adalah ziarah kubur
Al-Husain”. Bahkan Karbala itu lebih mulia dibanding Makkah
Al-Mukaramah. Karena Al-Husain dikuburkan di disana. [Lihat Ushul
Madzhab Asy-Syiah Al-Imamiyah Al-Itsna Asyriyah Dr Nashir Al-Qifari,
hal. 460-464]

MUHARRAM DALAM PANDANGAN ISLAM
[1]. Muharram Adalah Bulan Yang Mulia
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

“Artinya : Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas
bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi,
diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus,
maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu”
[At-Taubah : 36]

Imam Ath-Thabari berkata : “Bulan itu ada dua belas, empat diantaranya
merupakan bulan haram (mulia), dimana orang-orang jahiliyah dahulu
mengagungkan dan memuliakannya. Mereka mengharamkan peperangan pada
bulan tersebut. Sampai seandainya ada seseorang bertemu dengan orang
yang membunuh ayahnya maka dia tidak akan menyerangnya. Bulan empat itu
adalah Rajab Mudhor, dan tiga bulan berurutan, yaitu Dulqqo’dah,
Dzulhijjah dan Muharram. Dengan ini nyatalah khabat-khabar yang
disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Kemudian
At-Thabari meriwayatkan beberapa hadits, diantaranya, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Wahai manusia, sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana
keadaan ketika Allah menciptakan langit dan bumi, dan sesungguhnya
bilangan bulan pada sisi Allah ada dua belas bulan, diantaranya
terdapat empat bulan haram, pertamanya adalah Rajab Mudhor, terletak
antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban, kemudian Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan
Muharram”

Dan ini merupakan perkataan mayoritas ahli tafsir {Jami’ul Bayan 10/124-125]

Imam Al-Qurthubi berkata : “Pada ayat ini terdapat delapan
permasalahan. Yang keempat : Bulan haram yang disebutkan dalam ayat
adalah Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab yang terletak antara
Jumadal Akhir dan Sya’ban. Dinamakan Rajab Mudhor, karena Robi’ah bin
Nazar, mereka mengharamkan bulan Rajab itu sendiri”. Kedelapan : “Allah
menyebut secara khusus empat bulan ini dan melarang perbuatan dzolim
pada bulan-bulan tersebut sebagai pemuliaan, walaupun perbuatan dzolim
itu juga dilarang pada setiap waktu, seperti firman Allah.

“Artinya : Maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji” [Al-Baqarah : 197]

Ini menurut mayoriyas ahli tafsir Maksudnya janganlah kalian berbuat
kedholiman pada empat bulan tersebut. [Al-Jami Li Ahkamil Qur’an
4/85-87]

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata : “Empat bulan tersebut adalah
Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram. Dinamakan haram karena
kemuliaan yang lebih dan diharamkannya peperangan pada bulan tersebut”
[Tatsiru Karimir Rohmah Fi Tafsiri Kalamil Mannan hal, 296]

Imam Al-Baghawi berkata : “Janganlah kalian berbuat dzalim pada semua
bulan (dua belas bulan) tersebut dengan melakukan kemaksiatan dan
melalaikan kataatan”. Ada yang berpendapat bahwa kalimat “fiihinna”
maksudnya adalah empat bulan haram tersebut. Qotadah berkata : “Amalan
shalih pada bulan haram pahalanya sangat agung dan perbuatan dholim di
dalamnya merupakan kedholiman yang besar pula dibanding pada bulan
selainnya, walaupun yang namanya kedholiman itu kapanpun merupakan dosa
yang besar”. Ibnu Abbas berkata : “Janganlah kalian berbuat dholim pada
diri kalian, yang dimaksud adalah menghalalkan sesuatu yang haram dan
melakukan penyerangan”. Muhammad bin Ishaq bin Yasar berkata :
“Janganlah kalian menghalalkan sesuatu yang haram dan mengharamkan yang
halal, seperti perbuatan orang-orang musyrik yaitu mengundur-undurkan
bulan haram (yaitu pada bulan Safar)’ [Ma’alimut Tanzil 4/44-45]

Imam Bukhari ketika menafsirkan ayat di atas (At-Taubah : 36) membawakan suatu hadits.

“Artinya : Dari Abu Bakrah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam, bersabda : “Sesungguhnya zaman itu berputar
sebagaimana keadaan ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun
ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan haram, tiga bulan
berurutan yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab Mudhor yang
terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban” [Hadits Riwayat Bukhari :
4662]

Imam Nawawi dalam Syarah Muslim mengatakan : “Kaum muslimin telah
sepakat bahwa empat bulan haram seperti termaktub dalam hadits, tetapi
mereka berselisih cara mengurutkannya. Sekelompok penduduk Kufah dan
Arab mengurutkan : Muharram, Rajab, Dzulqo’dah dan Dzulhijjah, agar
empat bulan tersebut terkumpul dalam satu tahun. Ulama Madinah, Basrah
dan mayoritas ulama mengurutkan, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan
Rajab, tiga berurutan dan satu bulan tersendiri (Rajab). Inilah
pendapat yang benar sebagaimana tertera dalam hadits-hadits yang
shahih,diantaranya hadits yang sedang kita perbincangkan. Oleh karenanya
hal ini lebih sesuai (memudahkan) manusia untuk melakkan thawaf pada
semua buan haram tersebut. [10/319-320]

Termasuk kemuliaan bulan-bulan haram adalah dilarangnya peperangan pada
bulan tersebut. Hanya saja larangan ini di-mansukh (dihapus) hukumnya
menurut jumhur ulama. Karena di dalam Islam peperangan itu terbagi
menjadi dua, diijinkan dan dilarang. Peperangan yang dijinkan
dibolehkan bila adanya sebab. Sedangkan peperangan yang haram itu
dilarang kapan saja. Maka tidak ada lagi keistimewaan bagi bulan-bulan
haram kecuali sebatas kemulyaan yang sudah ditentukan pada hari-hari
sebelumnya yaitu terbatas pada waktu-waktu yang utama.

Imam Al-Hasan Al-Bashri mengatakan : “Sesungguhnya Allah membuka tahun
dengan bulan haram dan menutupnya juga dengan bulan yang haram. Tidak
ada bulan yang paling mulya disisi Allah setelah Ramadhan (selain
bulan-bulan haram ini, -pen)”.

Pada bulan Muharram ini terdapat hari yang pada hari itu terjadi
peristiwa yang besar dan pertolongan yang nyata, menangnya kebenaran
mengalahkan kebathilan, dimana Allah telah menyelamatkan Musa ‘Alaihis
sallam dan kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya. Hari
tersebut mempunyai keutamaan yang agung dan kemuliaan yang abadi sejak
dulu. Dia adalah hari kesepuluh yang dinamakan Asyura. [Durusun ‘Aamun,
Abdul Malik Al-Qasim, hal.10]

[2]. Disyariatkan Puasa Asyura
Berdasarkan hadits-hadist berikut ini.

“Artinya : Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
memerintahkan untuk berpuasa Asyura, tatkala puasa Ramadhan diwajibkan,
maka bagi siapa yang ingin berpuasa puasalah, dan siapa yang tidak
ingin, tidak usah berpuasa” [Hadits Riwayat Bukhari 2001]

“Artinya : Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke
Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura.
Mereka mengatakan :”Hari ini adalah hari yang agung dimana Allah telah
menyelamatkan Musa dan menenggelamkan pasukan Fir’aun, lalu Musa
berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur kepada Allah”. Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ; “Saya lebih berhak atas Musa
dari pada mereka”, lalu beliau berpuasa dan memerintahkan untuk
berpuasa pada hari itu” [Hadits Riwayat Bukhari 3397]

Keutamaan Puasa Asyura
“Artinya : Ibnu Abbas Radhiyalahu anhu ditanya tentang puasa Asyura,
jawabnya : “Saya tidak mengetahui bahwa Rasulullah puasa pada hari yang
paling dicari keutamaannya selain hari ini (Asyura) dan bulan Ramadhan”
[Hadits Riwayat Bukhari 1902, Muslim 1132]

Puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu, berdasarkan hadits berikut.

“Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang
puasa Asyura, jawabnya : “Puasa Asyura menghapus dosa setahun yang
lalu” [Hadits Riwayat Muslim 1162, Tirmidzi 752, Abu Daud 2425, Ibnu
Majah 1738, Ahmad 22031]

Asyura Adalah Hari Kesepuluh

Berdasarkan hadits berikut. : "Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu :
Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa Asyura dan
memerintahkan untuk berpuasa, para sahabat berkata : “Wahai Rasulullah
ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashara”, Maka beliau
bersabda : “Tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari
kesembilan”. Ibnu Abbas berkata : “Tahun berikutnya belum datang
Rasulullah keburu meninggal” [Hadits Riwayat Muslim 1134, Abu Daud
2445, Ahmad 2107]

Imam Nawawi berkata : “Jumhur ulama Salaf dan khalaf berpendapat bahwa
hari Asyura adalah hari kesepuluh. Yang berpendapat demikian
diantaranya adalah Sa’id bin Musayyib, Al-Hasan Al-Bashri, Malik bin
Anas, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih dan banyak lagi. Pendapat
ini sesuai dengan (dzahir) teks hadits dan tuntutan lafadnya. [Syarah
Shahih Muslim 9 hal. 205]

Hanya saja Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berniat untuk
berpuasa hari kesembilan sebagai penyelisihan terhadap ahlul kitab,
setelah dikhabarkan kepada beliau bahwa hari tersebut diagungkan oleh
orang-orang Yahudi dan Nashara. Oleh karena itu Imam Nawawi berkata : “
Asy-Syafi’i dan para sahabatnya, Ahmad, Ishaq dan selainnya berpendapat
; Disunnahkan untuk berpuasa hari kesembilan dan kesepuluh karena Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa hari kesepuluh serta berniat
untuk puasa hari kesembilan. Ulama berkata : “Barangkali sebab puasa
hari kesembilan bersama hari kesepuluh adalah agar tidak menyerupai
orang-orang Yahudi jika hanya berpuasa hari kesepuluh saja. Dan dalam
hadits tersebut memang terdapat indikasi ka arah itu” [Syarah Shahih
Muslim 9 hal. 205]

Al-Allamah Muhammad Shidiq Hasan Khan berkata : “Mayoritas ulama
menyunnahkan untuk berpuasa pada hari sebelumnya” [Sailul Jarar Juz 2
hal. 148]

Namun dalam masalah ini ulama berselisih. Selain ada yang berpendapat
seperti diatas, sebagian ulama berpendapat hendaknya berpuasa satu hari
sebelum dan sesudahnya berdasarkan hadits.

“Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Berpuasalah hari Asyura dan berbedalah dengan orang Yahudi, (dengan)
berpuasalah hari sebelumnya dan sesudahnya” [Hadits Riwayat Ahmad 2155]

Seperti dikemukakan oleh Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad 2 hal.76 dan
Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 4 hal. 772. Hanya saja hadits
tersebut di dhoifkan oleh beberapa ulama seperti Imam Syaukani dalam
Nailul Author 2 hal. 552. Kata beliau : “Riwayat Ahmad ini dho’if
mungkar, diriwayatkan dari jalan Dawud bin Ali dari bapaknya, dari
kakeknya. Ibnu Abi Laila juga meriwayatkan dari Dawud bin Ali ini”
Al-Mubarakfuri menukil perkataan Imam Syaukani ini dalam Tuhfatul
Ahwadzi 3 hal. 383. Imam Al-Albani juga mendho’ifkannya dalam ta’liq
Shahih Ibnu Khuzaimah yang dinukil oleh Syaikh Muhammad Musthofa
Al-Adzami dalam tahqiq Shahih Ibnu Khuzaimah juz 3 hal.290. Syaikh
Syu’aib dan Abdul Qadir Al-Arnauth dalam tahqiq kitab Zadul Ma’ad 2
hal. 69. Maka yang rajih adalah pendapat pertama yaitu disunnahkan
untuk berpuasa satu hari sebelumnya.

Kesimpulannya bahwa bulan Muharram atau dikenal dengan Suro merupakan
bulan yang mulia. Maka tidak sepantasnya apabila kaum muslimin
mempunyai anggapan miring terhadapnya, dengan menjadikan sebagai bulan
keramat. Sehingga menyeret mereka jatuh ke lembah kesyirikan, dengan
melakukan acara-acara cerminan dari keyakinan mereka yang keliru.
Akibatnya dosa yang disandang semakin banyak karena dilakukan pada
bulan yang mulia.

KOREKSI TERHADAP KEPERCAYAAN MASYARAKAT SEPUTAR MUHARRAM (SURO)
Telah dipaparkan diatas, keyakinan sebagian masyarakat seputar Muharram
(Suro). Benarkah keyakinan seperti itu ? Jawabnya : Keyakinan di atas
adalah salah. Karena mereka menyandarkan nasib mereka, bahagia dan
celaka kepada masa, waktu. Padahal waktu atau masa tidak kuasa
memberikan apa-apa. Jadi mereka telah jatuh ke dalam perkara yang di
haramkan atau kesyirikan. Allah mengkhabarkan keyakinan orang-orang
kafir dan orang-orang musyrikin.

“Artinya : Dan mereka berkata : “Kehidupan ini tidak lain hanyalah
kehidupan dunia saja, kita mati dan kita hidup, tidak ada yang
membinasakan kita selain masa. Dan sekali-kali mereka tidak mempunyai
pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga”
[Al-Jatsiyah : 23]

Orang-orang kafir tersebut mengingkari adanya hari kiamat, mati hidup
mereka waktulah yang menentukan. Bahagia, celaka dan perputaran hidup
mati mereka berjalan seiring dengan bergesernya waktu. Tidak disadari
mereka telah mencaci masa. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda.

“Artinya : Allah Ta’ala berfirman : “Manusia menyakiti Aku, dia mencaci
maki masa, padahal Aku adalah (pemilik dan pengatur masa) Aku-lah yang
mengatur malam dan siang menjadi silih berganti” [Bukhari 4826, Muslim
2246]

Imam Al-Baghawi berkata : “Makna hadits : Dahulu orang-orang Arab
terbiasa mencela masa apabila tertimpa musibah. Mereka mengatakan :
“Makna tertimpa masa bencana”. Maka jika mereka menyandarkan musibah
yang menimpa kepada masa, berarti mereka telah mencaci pengatur masa
itu, yang tentunya adalah Allah. Karena pengatur urusan yang mereka
lakukan itu pada hakekatnya adalah Allah. Oleh karena itu mereka
dilarang mencela masa. [Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid, hal. 51]

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam Al-Qoulus Sadid mengatakan :
“Pencelaan kepada masa ini banyak terjadi pada masa jahiliyah. Kemudian
diikuti oleh orang-orang fasik, gila dan bodoh. Jika perputaran masa
berlangsung tidak sesuai dengan harapan mereka mulailah mereka
mencelanya, bahkan tidak jarang melaknatnya. Semua ini timbul karena
tipisnya agama mereka dan karena parahnya kedunguan dan kebodohan.
Dikarenakan masa itu tidak mempunyai peranan apa-apa dalam menentuka
nasib. Sebaliknya, justru masa itulah yang diatur. Kejadin-kejadian
yang terjadi dalam rentang waktu, merupakan pengaturan Allah yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana. Oleh karena itu jika masa dicerca berarti
mencaci pengaturnya” [Al-Qoulus Sadid hal. 146]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata : “Mencela masa terbagi
menjadi tiga macam. Yang kedua yaitu pencelaan kepada masa disertai
keyakinan bahwa masa itu merupakan penentu. Masa itulah yang menentukan
perkara menjadi baik atau jelek. Ini adalah syirik besar. Karena orang
tadi berkeyakinan adanya pencipta selain Allah denan menyandarkan
peristiwa-peristiwa kepada selainNya. Setiap orang yang berkeyakinan
bahwa ada pencipta selain Allah maka dia kafir. Sama halnya dengan
orang yang berkeyakinan adanya ilah selain Allah yang pantas untuk
disembah, ini juga kafir. Yang ketiga ; pencelaan terhadap masa namun
tidak disertai keyakinan bahwa masa itu merupakan penentu. Tetapi
Allah-lah yang mengaturnya. Hanya saja dia mencelanya disebabkan pada
masa itulah terjadi peristiwa yang tidak dia senangi. Pencelaan ini
diharamkan, namun tidak sampai pada kesyirikan. Hal itu lantaran
pencelaan kepada masa tidak terlepas dari dua kemungkinan. Jika
pencelaan itu disertai keyakinan bahwa masa itu merupakan penentu maka
ini syirik. Jika tidak demikian, maka pada hakekatnya pencelaan itu
tertuju kepada Allah, karena Allah-lah yang mengatur masa tersebut,
menjadi baik atau jelek. Maka ini diharamkan” [Al-Qoulul Mufid Ala
Kitabit Tauhid, hal. 351-352]

Oleh karenanya keyakinan bahwa bulan Muharram (Suro) merupakan bulan
keramat atau petaka, tidak terlepas dari dua hal bisa haram atau jatuh
ke dalam kesyirikan. Belum lagi acara-acara yang menyertainya semisal
nyadran ke pantai selatan, jamasan pusaka, kirab kerbau untuk dimintai
berkahnya. Tidak diragukan lagi semua itu merupakan syirik besar.

Demikian pula keyakinan Syi’ah, sebagaimana telah dikemukakan diatas.
Semua itu merupakan cerminan dari sikap ghuluw (berlebih-lebihan)
mereka terhadap imamnya. Dan ini tidak aneh karena hal itu sudah
menjadi tradisi mereka. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam melarang bersikap ghuluw kepada orang shalih, sabdanya.

“Artinya : Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan
Nashara, mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat
ibadah (masjid)” [Hadits Riwayat Bukhari 435, Muslim 531]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi kabar tentang gereja
yang ada di Habasyah (Ethiopia), dengan aneka ornamennya, lantas beliau
bersabda.

“Artinya : Mereka itu, apabila ada orang shalih meninggal, mereka
bangun diatas kuburannya sebuah tempat ibadah dan membuat di dalam
tempat itu gambar-gambar (patung-patung) . Mereka itulah makhluk yang
paling jelek disisi Allah” [Hadits Riwayat Bukhari 427 Muslim 528]

Diantara perkara bathil yang terdapat pada bulan Muharram, seperti
dituturkan oleh Ibnul Qayyim : “Diantara hadits-hadits yang bathil
adalah hadits tentang memakai celak pada hari Asyura, berhias, banyak
berinfak kepada keluarga, shalat dan amalan-amalan lainnya yang
mempunyai fadhilah. Padahal tidak ada satupun hadits yang shahih
berkaitan dengan amalan tadi. Hadits-hadits yang shahih hanya berkisar
mengenai puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam. Selain itu semuanya
bathil.

Termasuk perkara yang bathil, menjadikan Asyura sebagai hari penyiksaan
dan kesedihan. Ini adalah bid’ah dan mungkar. Ibnu Rajab dalam
Latha’iful Ma’arif mengatakan : “Adapun dijadikannya hari Asyura
sebagai acara jamuan makan seperti dilakukan oleh Syi’ah Rafidhah,
karena untuk memperingati terbunuhnya Al-Husain bin Ali, maka ini
termasuk amalan orang yang amalannya sia-sia sedangkan dia menyangka
telah berbuat kebaikan. Allah dan RasulNya tidak memerintahkan untuk
menjadikan hari dimana para nabi tertimpa musibah dan kematiannya
sebagai jamuan makan, apalagi orang selain mereka?!” [Durusun Aamun,
Abdul Malik Al-Qasim hal. 11-12].

Bila pada bulan haram amalan shalih dibalas dengan berlipat demikian
pula balasan bagi perbuatan maksiat, juga berlipat. Allahu a’lam

[Disalin dari Buletin Dakwah Al-Furqon Edisi 6 Th 1 Muharram
1422/Maret-April 2002. Diterbitkan Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon,
Alamat Ponpes Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu Gresik]

SINAR CAHAYA AYAT KURSI

KEUTAMAAN AYAT KURSI
·
cid:2__=C7BBFCC4DF986AD08f9e8a93df9@clariant.com Dalam sebuah hadis, ada menyebut perihal seekor syaitan yang duduk di atas pintu rumah. Tugasnya ialah untuk menanam keraguan di hati suami terhadap kesetiaan isteri di rumah dan keraguan di hati isteri terhadap kejujuran suami di luar rumah. Sebab itulah Rasulullah tidak akan masuk rumah
sehingga Baginda mendengar jawaban salam dari isterinya. Di saat itu syaitan akan lari bersama-sama dengan salam itu.

Hikmat Ayat Al-Kursi mengikut Hadis-hadis:

1) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi bila berbaring di tempat tidurnya, Allah SWT mewakilkan dua orang Malaikat memeliharanya hingga subuh.

2) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir setiap sembahyang Fardhu, dia akan berada dalam lindungan Allah SWT hingga sembahyang yang lain.

3) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir tiap sembahyang, dia akan masuk syurga dan barang siapa membacanya ketika hendak tidur, Allah SWT akan memelihara rumahnya dan rumah-rumah disekitarnya.

4) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir tiap-tiap shalat fardhu, Allah SWT menganugerahkan dia setiap hati orang yang bersyukur, setiap perbuatan orang yang benar, pahala nabi2, serta Allah melimpahkan rahmat padanya.

5) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi sebelum keluar rumahnya, maka Allah SWT mengutuskan 70,000 Malaikat kepadanya - mereka semua memohon keampunan dan mendoakan baginya.

6) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir sembahyang, Allah SWT akan mengendalikan pengambilan rohnya dan dia adalah seperti orang yang berperang bersama Nabi Allah sehingga mati syahid..

7) Barang siapa yang membaca ayat Al-Kursi ketika dalam kesempitan niscaya Allah SWT berkenan memberi pertolongan kepadanya.

Dari Abdullah bin 'Amr r.a., Rasulullah S..A..W. bersabda,

"Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..."

"Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk Dunia-mu, utamakan SHOLAT dan ZAKAT untuk Akhirat-mu"

Subhanallah. ..

Saturday, April 17, 2010

Foto2 proses terciptanya manusia "Subhanallah Bukti Keagungan Allah Menciptakan Manusia Dari Sperma Menjadi Manusia"


FOTO-FOTO PROSES TERCIPTANYA MANUSIA BUKTI KEAGUNGAN ALLAH SWT

   
Berikut ini beberapa seleksi fotografer Swedia bernama Lennart Nilsson. Dia terkenal dengan foto2 in vivo embrio manusia dan subjek2 kedokteran lainnya yang dulu dianggap tidak bisa diabadikan lewat foto.

Dia menggunakan sebuah endoskop untuk membuat gambar2 menakjubkan ini!

Dalam seri foto ini, dia menguak semua rahasia - bagaimana kehidupan berawal!!! Bukti keagungan Tuhan!!!
Ini bukan ilustrasi, bukan pula hasil ilustrasi.. This is real!!!



Perjalanan panjang sperma menuju sel telur:



Sperma yang telah bersusah payah berenang siap membuahi sel telur..


Pembuahan:


Dinding rahim yang baru siap dibuahi:


Sel telur yang dibuahi menuju dinding rahim:



Embrio mulai terbentuk, disini yang terlihat adalah awal pembentukan kepala:


Sudah mulai berbentuk:













Manusia sempurna, yang siap berjuang melawan hidup...
 

[HOTD] QAILULAH, Tidur Siang Sejenak

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. .

bismillahhiRRahmaniRRahim
Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tiduR untuk istiRahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun beRusaha.
[Al FuRqaan (25) ayat 47]
dicOntOhkan Oleh Rasulullah
Dalam kitab Fiqhus Sunnah teRdapat keteRangan sebagai beRikut:
فعن ابن عمر قال: كنا في زمن رسول الله صلى الله عليه وسلم ننام في المسجد نقيل فيه ونحن شباب.
“TeRdapat sebuah hadis daRi Ibnu UmaR, beliau beRkata, "Kami (paRa sahabat) pada zaman Rasulullah Saw. suka tiduR di masjid, kami tiduR qailulah (tiduR tengah haRi) di dalamnya, dan kami pada waktu itu masih muda-muda." (Kitab Fiqhus Sunnah, Juz I, hal. 252)
Di dalam kitab Misykatul Masabih disebutkan,
"TiduR sekejap di waktu tengah haRi atau qailulah bukanlah satu peRbuatan yang keji keRana Rasulullah peRnah melakukannya. "
membantu Shalat Tahajjud
Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin beRkata,
"Hendaklah seseORang tidak meninggalkan tiduR yang sekejap pada siang haRi keRana ia membantu ibadah pada malam haRi. sebaik-baiknya hendaklah seseORang itu bangun daRipada tiduRnya sebelum gelinciR matahaRi untuk menunaikan sOlat zuhuR."
setelah shalat Jum’at
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:
كُنَّا نُبَكِّرُ بِالْجُمُعَةِ وَنَقِيْلُ بَعْدَ الْجُمُعَةِ
“Kami takbiR (beRsegeRa datang ke masjid) untuk menanti pelaksanaan shalat Jum’at dan kami qailulah setelah shalat Jum’at.” (HR. Al-BukhaRi nO. 905)
Links:
  • AlbeRt Einstein, NapOleOn BOnapaRte, ThOmas EdisOn, WinstOn ChuRchill adalah nama-nama ORang-ORang yang sangat antusias melakukan shORt afteRnOOn nap.
    Penelitian di NASA menunjukkan peRfORmance dan kOnsentRasi pilOt yang melakukan tiduR siang 24 menit lebih tinggi daRipada yang tidak.
  • DR Maas, seORang ahli fisiOlOgi mengatakan bahwa tiduR siang 20 menit secaRa signifikan meningkatkan kemampuan untuk beRkOnsentRasi pada hal-hal yang detail dan juga kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan kRitis.
  • QOilulah dalam bahasa aRab teRambil daRi akaR kata qOf-lam-lam yang juga meRupakan haRfu al-tsulatsi daRi kata qOliil yang aRtinya “sedikit” (jika dinisbatkan pada kuantitas) atau “sebentaR/sejenak” (jika dinisbatkan pada waktu). Sehingga secaRa istilah, qOilulah adalah tiduR siang sejenak/sebentaR yang waktunya bisa sebelum DzuhuR atau setelah menunaikan shalat DzuhuR.
  • Rasulullah SAW, paRa sahabat, seRta ORang-ORang yang shOleh melakukan qOilulah ini agaR pada malam haRinya meReka dapat bangun malam dan beRlama-lama melakukan qiyamu al-lail (shalat tahajud, dan aktifitas mengingat Allah yang lainnya).
  • Dalam sebuah Riwayat yang saya baca di kitab Ihya ‘Ulumu ad-Diin kaRya Al-Ghazali, Imam Abu Hanifah selama 40 tahun tidak peRnah tiduR malam keRena malamnya dipenuhi dengan shalat malam. Beliau tiduR hanya sebentaR pada waktu siang haRi (qOilulah). QOilulah dilakukan bebeRapa menit saja yaitu antaRa 20 hingga 30 menit. Jika memang tujuannya untuk dapat bangun malam untuk shalat tahajud, tentu ini adalah sunnah Rasulullah. Kalau tiduR siang ini hanya untuk beRmalas-malasan, dan malam haRinya tidak shalat tahajud, TaRawih dan aktifitas-aktifitas mengingat Allah yang lainnya, maka saya pikiR tidak ada nilai sunnah daRi melakukan qOilulah.
  • Di kitab Al-Ghazali teRsebut juga diRiwayatkan bahwa peRnah suatu haRi Khalifah UmaR bin Khatab Ra. melakukan peRjalanan Resmi ke IskandaRiah. Ketika itu Muawiyah bin Khudaij menjadi guRbeRnuR di kOta itu. UmaR sampai ke kOta itu pada waktu siang ketika ORang-ORang sedang melakukan qailulah. UmaR menemui Muawiyah yang saat itu tidak tiduR (melakukan qOilulah), lalu beRkata: “Saya lihat kamu tidak tiduR pada siang ini, kalau kamu tiduR siang haRi, maka akan melalaikan hak Rakyat, kalau kamu tiduR malam, kamu melalaikan hak Allah, jadi bagaimana kamu mengatuR tiduR antaRa dua hak ini wahai Muawiyah.”
  • Bagaimana melakukan shORt afteRnOOn nap yang benaR?
  1. Lakukan shORt afteRnOOn-nap pada tengah haRi (sekitaR jam 12 siang), sebelum DzuhuR atau bebeRapa saat setelah DzuhuR. Paling baik dilakukan setelah DzuhuR selepas menunaikan shalat DzuhuR.
  2. Lakukan tiduR sebentaR saja, sekitaR 20 – 30 menit. TiduR siang yang teRlalu lama (diatas 30 menit) akan membuat kita masuk ke dalam zOna tiduR mendalam (deep sleep) yang menyebabkan susah untuk bangun atau peRasaan malas untuk bangun.
  3. Imbangi dengan menguRangi waktu tiduR di malam haRi. Biasakan dengan bangun di sepeRtiga malam yang teRakhiR (sekitaR jam 2 malam). TeRutama bagi Muslim, bulan Ramadhan adalah saat yang tepat untuk melatih membiasakan bangun di malam haRi.
[~QAILULAH VS SAINS~]
http://insannajah. blogspot. com/2009/ 06/qailulah- vs-sains. html
  • BeRpandukan kajian2 saintifik, tiduR pada waktu tengah haRi didapati beRkesan bagi meningkatkan tenaga, tumpuan dan pROduktiviti pekeRja2. Hasil daRipada satu kajian yang dilakukan selama 25 tahun beRhubung kesan tiduR ke atas negaRa2 industRi dan pasca industRi mendapati, "92.5% pekeRja yang beRkesempatan tiduR ada waktu tengah haRi mempunyai daya kReativiti yang lebih tinggi beRbanding meReka yang lain. Daya kemampuan meReka menyelesaikan masalah juga meningkat dan hasilnya ialah peningkatan pROduktiviti secaRa keseluRuhannya. "
  • Waktu tengah haRi adalah masa yang sesuai untuk tiduR seketika keRana sistem badan manusia beRsedia memanfaatkan fasa tiduR pada waktu itu. Fasa ini dikenali sebagai midafteRnOOn quiescent phase atau a secOndaRy sleep gate.
  • Kajian menunjukkan meReka yang secaRa Rutin tiduR selama 30 minit di waktu tengah haRi mempunyai RisikO menghidap penyakit jantung 30% lebih Rendah beRbanding meReka yang lain.
  • DR. James Maas, pakaR tiduR daRi CORnell UniveRsity meRumuskan, tiduR tengah haRi selama 15-20 minit sudah mencukupi bagi mengembalikan tenaga dan menjaga kesihatan. SeORang pengkaji yang lain, DOnald GReely, beRpendapat tiduR tengah haRi adalah beRmanfaat selama mana ia tidak melebihi 1 jam.
[TIDUR QAILULAH]
http://gusbroer. wordpress. com/category/ tidur-qailulah/
  • Dalam tRadisi Islam, tiduR siang meRupakan sunnah, yang sudah diamalkan Oleh Rasul Saw semenjak 14 abad yang lampau. PaRa ulama menyebutnya sebagai tiduR qailulah. Kitab klasik yang menyinggung kebiasaan Nabi Saw ini adalah Misykatul Mashabih. Hanya saja, beRbeda dengan mOtivasi ORang BaRat-mOdeRn yang menjadikan tiduR siang (afteRnOOn nap, siesta) sebagai “penggugah” kesegaRan dan pROduktivitas tubuh (fisik), penunjang kesehatan, dan sejenisnya, dalam wawasan Islam tiduR siang (qaiulah) adalah sebagai “baRteR” atau kOmpensasi atas ibadah yang akan dilakukan pada malam haRinya. Jadi, ketika kita misalnya haRi tiduR siang dengan niat qailulah, tidak ubahnya kita mengambil jatah tiduR kita nanti malam, kaRena pada malam haRi nanti kita hendak beRjaga demi beRibadah kepada Allah.
  • Waktu qailulah adalah sehabis salat zuhuR hingga waktu ashaR, itu pun hanya sekadaRnya saja, sekiRa dua puluh sampai tiga puluh menit.
[TiduR Siang di Bulan Ramadhan]
http://www.pesantre nvirtual. com/index. php/seputar- ramadhan/ 16-tanya- jawab/939- tidur-siang- di-bulan- ramadhan
  • TiduR siang adalah kebiasaan masyaRakat ARab dan bebeRapa ORang shOleh dan ulama teRdahulu. MeReka menyebutnya Qailulah yang aRtinya tiduR sebentaR waktu siang. MeReka melakukannya tidak hanya pada bulan Ramadhan tapi pada haRi-haRi biasa juga, khususnya pada waktu musim panas. PaRa Ulama ShOleh teRdahulu menjadikan tujuan daRi qailulah ini agaR pada malam haRinya bisa bangun untuk mendiRikan shOlat tahajud.
  • Qailulah ini waktunya setelah shOlat dhuhuR hingga AshaR. Jadi tiduR siang atau qailulah ini hanya kebiasaan ORang-ORang teRdahulu. Kalau memang tujuannya agaR bisa bangun malam untuk shOlat tahajjud, tentu ini meRupakan sunnah kaRena Rasulullah s.a.w. juga melakukannya. Tapi kalau tiduR siangnya hanya untuk beRmalas-malasan, apalagi malam haRinya juga tidak shOlat tahajud maka apa nilai sunnah daRi tiduR siang ini?
Untuk mendOwnlOad kumpulan aRtikel [HOTD] QAILULAH, tiduR siang sejenak" ini, silahkan klik di bawah ini:
Download File [HOTD] QAILULAH, tiduR siang sejenak | 141kB
#SAUDARAKU, DO'AKAN KEBAIKAN BUAT SELURUH KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT BAIK YANG MASIH HIDUP MAUPUN YANG SUDAH WAFAT. INSYA ALLAH SAUDARA JUGA MEMPEROLEH PAHALA DARI KEBAIKAN INI#