Pages

Subscribe:

Thursday, August 4, 2016

Bismillahir rahmanir rahim
Assalamu alaikum wr wb

Mengenal Zuhud*
___ Umar Zain Assegaf ____


Saat Habib Ahmad bin Hasan Al Athas menuntut ilmu di Mekkah, Beliaupun mendatangi Sayid Ahmad Zaini Dahlan, mufti Mazhab Syafi’ie kala itu. Kemudian Sayid Ahmad Zaini Dahlan bertanya pada Habib Ahmad bin Hasan Al Athas, "engkau dari Yaman ya?, siapa Ahli Ilmu didaerah mu saat ini?, maka Habib Ahmad bin Hasan Al Athas menjawab," Habib Muhsin bin Alwi Assegaf", Sayid Ahmad Zaini langsung berkata "coba beri kami satu hal dari Habib Muhsin bin Alwi ini", maka kata Habib Ahmad bin Hasan Al Athas, "Beliau pernah menyampaikan tentang Ayat ini"
Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa diantara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa yang tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku. (QS.Al-Baqarah:249)"
Habib Muhsin pun menjelaskan, itulah Dunia, siapa yang menjauhi nya, atau mengambil hanya sedikit saja maka selamat, itu salah satu yang disampaikan Habib Muhsin bin Alwi Assegaf "
Sayid Ahmad Zaini Dahlan pun langsung berseru," inilah ilmu !!! "
Hampir semua nasehat Ulama-ulama kita, selalu menekankan untuk menjauhi Dunia, karena Dunia ini daya pikatnya luar biasa, sampai kata salah seorang Salaf, sihir Dunia lebih dahsyat daripada sihir harut dan marut
Menjauhi bukan berarti Tidak Memiliki, berapa banyak orang yang memiliki banyak hal yang sifatnya Dunia, tapi dia tidak minat sama sekali dengan nya
Dan, kebalikan nya, berapa banyak orang yang tidak punya apa-apa tapi hatinya terpikat dengan Dunia
Dunia adalah segala sesuatu yang tidak ditujukan untuk Allah SWT, jadi bisa berwujud apapun, bahkan ibadah kita, jika tidak kita tujukan untuk Allah SWT, maka itu termasuk Dunia
Ilmu misalnya, jika dia belajar dari kecil, susah payah dijalanin tapi yang dia kejar adalah ketenaran, mencari pujian orang atas kepintaran nya, maka meski dia Ulama sehebat apa aja, jika tujuan nya hanya itu, juga termasuk Dunia
Sebaliknya, jika dia seorang pengusaha sukses, tapi dia tidak gandrung dengan kesuksesan nya, justru hidupnya hanya sederhana saja, mobil ya cuma yang dibutuhkan, meski dia mampu memiliki mobil keluaran baru lebih dari 4, rumah juga cuma yang dibutuhkan saja, walaupun dia bisa mempunyai rumah ditiap kota, dia hanya mengambil alakadarnya saja, selebihnya dia gunakan untuk umat, maka itu bukan Dunia
Seperti kisah kakak beradik di kitab Habib Muhammad bin Hadi Assegaf, yang mana si Adik adalah seorang Kyai yang mengabdikan hidupnya untuk mengajar, usaha setiap harinya hanya memancing dibelakang pesantren nya, sedang sang Kakak adalah pengusaha sukses di kota, yang memiliki rumah yang mewah, tapi disebutkan bahwa Sang Kakak adalah seorang yang zuhud, sedang Si Adik malah Ahli Dunia
Ternyata rahasia nya adalah dihatinya masing-masing, Si Adik setiap hari selalu khawatir jika tidak mendapatkan ikan, maka bagaimana dia bisa menghidupi keluarga dan pesantren nya
Sedang Sang Kakak, semua harta dan usahanya tidak dianggap sama sekali, dia hanya selalu bersandar kepada Allah SWT, jika dalam waktu sekejab semua harta nya ludes, dihati nya pun tidak ada rasa kehilangan, sama saja baginya dia mendapatkan keuntungan besar atau kehilangan kesemuanya
Itulah sesungguhnya rahasia zuhud, semua letaknya dihati, bukan dimateri
Dan, seseorang yang memiliki zuhud dihati nya, hidupnya akan super bahagia karena tidak ada ketakutan terhadap apapun pada hidupnya, dia dapat merasakan dengan nyata, bahwa apa yang ada di sisi Allah SWT itu lebih dekat daripada yang disisinya
Dia bisa merasa dengan nyata, bahwa hakekat nya dia tidak punya apa-apa, semua milik Allah SWT, maka dia selalu dalam kondisi gembira, entah diberi atau tidak diberi, entah dalam kelapangan atau kesempitan, sama saja baginya
Namun bicara zuhud emang mudah, sedang realisasi nya sangat susah, butuh terapi dan latihan yang sangat panjang, dan lebih sempurna nya lagi jika dibimbing oleh seorang Guru pendidik yang mumpuni
Tapi tidak ada yang mustahil jika kita sungguh-sungguh, maka jika kita ini selalu berdoa minta rejeki yang banyak, yang barokah, jangan lupa, kita minta diberi sifat zuhud oleh Allah SWT
Jika Allah SWT sudah memberi dan memasukkan sifat zuhud pada hati kita, sesungguhnya itu adalah pemberian yang sangat besar, lebih besar daripada pemberian rejeki yang banyak itu sendiri, karena jika Allah SWT memberi sifat zuhud, berarti Allah SWT sudah memilih kita, termasuk menjadi hamba yang dicintai NYA
Semoga kita diberi sifat zuhud pada hati kita, sifat tidak butuh pada siapapun dan apapun, hanya butuh kepada Allah SWT semata
Dan, digolongkan kita termasuk hamba-hamba NYA yang didekatkan pada NYA, dijauhkan dari cinta Dunia, kita, keluarga kita dan orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita, juga orang-orang yang membenci kita
Berkat Habib Muhsin bin Alwi Assegaf, Sayid Ahmad Zaini Dahlan dan berkat Habib Ahmad bin Hasan Al Athas
Aamiin Allahumma Aamiin
Solo, 28 Juli 2016
TAFSIR SURAH AL-FATIHAH MENURUT SYEIKH ABDUL 
QADIR AL-JAILANI


(Tafsir Al-Jailani ) TAFSIR SURAH AL-FATIHAH MENURUT SYEIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TAFSIR SURAH AL-FATIHAH MENURUT SYEIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani pada pembukaan tafsir Surah Al-Fatihah mengungkapkan: “Sungguh sangat jelas bagi siapapun yang telah Allah Ta'ala bangkitkan dari tidur kelalaian dan kantuk kealpaan, bahwa seluruh alam semesta dan isinya tidak lain adalah mazhhar (manifestasi) dari berbagai sifat-sifat Allah yang lahir dari nama-nama Dzat-Nya. Hal itu karena, di setiap martabat dari Martabat-martabat Wujud, Dzat memiliki nama dan sifat khusus yang masing-masing memiliki atsar (impresi) tersendiri. Maka demikianlah semua Martabat Wujud. Meski wujud itu hanya sebutir zarah, sekerjap mata, atau secercah bersitan dalam hati.
Sedangkan, martabah (martabat) yang disebut dengan Ahadiyah yang tidak berbilang atau disebut juga al-‘ama’ adalah martabat yang tidak ada ruang bagi auliya’ dan ulama (untuk menggapainya), melainkan hanya al-hasrah (pilu hati), al-hairah (rasa kacau) al-walah (kebingungan) dan al-haiman (kehausan cinta).
Martabat Ahadiyah merupakan martabat yang menjadi puncak tertinggi pencapaian para nabi dan ujung suluk para wali. Setelah (sampai di martabat) itu, mereka akan “berjalan” di dalamnya dan pasti akan menuju kepada Allah, hingga mereka semua akan mengalami istighrâq (tenggelam secara total mengingat Allah) sampai mengalami al-hairah (kebingungan/keterpanaan spiritual) dan fana’. Tiada Tuhan selain Dia (lâ ilâha illâ huwa). Segalanya musnah kecuali Wajah-Nya (kullu syai` hâlik illâ wajhah).
Kemudian, ketika Allah ingin membimbing hamba-hamba-Nya ke Martabat Ahadiyah tersebut—yakni agar mereka dapat kian dekat dan bertawajuh kepada-Nya hingga tawajuh dan taqarub mereka berakhir pada ‘isyq (rindu) dan mahabbah (cinta) yang paling hakiki (al-haqîqah al-haqqiyyah) saja, yang akan menyebabkan runtuhnya penyematan (al-idhafat) yang melahirkan kesan kepada keberbilangan atau dualitas terhadap Allah, yang setelah itu niat mereka menjadi murni dan layak untuk fana’—Allah menarik perhatian manusia untuk bergerak menuju ke jalan-Nya—sebagai bentuk bimbingan dan pengajaran kepada mereka—melalui doa-doa yang dipanjatkan kepada-Nya serta dalam munajat-munajat bersama-Nya, yang dalam doa-doa dan munajat-munajat itu tersirat (isyarat akan) kembalinya yang banyak menuju tunggal yang sempurna, yakni ketunggalan sempurna (kamal al-wihdah) yang mengenyahkan keberbilangan (nihayah al-katsrah).”
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menafsirkan surah Al-Fatihah, satu per satu:
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”
“Dengan nama “Allah” yang merupakan istilah bagi Dzat Ahadiyah, hal ini berdasarkan pada; 1) Berdasarkan tanazzul-Nya (turunnya wujud dengan penyngkapan Tuhan) dari Martabat Ahadiyah, karena tidaklah mungkin untuk mengistilahkan Dzat-Nya dengan martabat asli-Nya; 2) Berdasarkan pada ketidakterbatasan dan kemencakupan-Nya atas segala asma dan sifat Ilahi yang kepadanya segala mazhhar bersandar, yang menurut ahli kasyf diistilahkan dengan al-a’yân ats-tsâbitah, dan menurut ahli syariat disebut dengan Lauh al-Mahfûzh dan al-Kitâb al-Mubîn.
Kata “Ar-Rahman” (Maha Pengasih) merupakan istilah bagi Dzat Ahadiyah, hal ini berdasarkan pada; 1) Berdasarkan tajalliyat-Nya pada lembaran alam semesta dan perkembangan-Nya dalam mulabas al-wujub dan al-imkan; 2) Berdasarkan tanazzul-Nya dari Martabat Ahadiyah kepada Martabat Al-‘Adadiyah (martabat keberbilangan); ta’ayyunat-Nya terhadap berbagai manifestasi ilmiah dan esensi; serta pengejawantahan-Nya melalui citra eksistensial.
Kata “Ar-Rahim” (Maha Penyayang) merupakan istilah bagi Dzat Ahadiyah yang diekspresikan melalui tauhid terhadap-Nya setelah disebutkan keberbilangannya; melalui penyatuannya setelah pemisahannya; penggabungannya setelah penghamparannya; pengangkatannya setelah penundukannya; dan tajrid-nya setelah taqyid-nya.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam”
Segala puji dan pemuliaan yang menghimpun segala pujian dan pengharagaan yang lahir dari bahasa semua entitas semesta yang selalu bertawajuh kepada Penciptanya dengan ketaatan yang mengakui penghargaannya dengan cara bersyukur kepada Pemberi nikmat, baik melalui gerak maupun kata-kata, sejak azali, abadi, secara khusus dan ajek hanya untuk Allah, Dzat yang Menghimpun semua asma dan sifat yang melahirkan dan memelihara alam semesta seluruhnya karena Dia adalah Rabb semesta alam, yang jika saja pemeliharaan dan pelestaran Dia terhadap alam semesta hilang meski sesaat, niscaya alam semesta akan musnah sekaligus.
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
“Maha Pengasih dan Maha Penyayang”
“Ar-Rahman (Maha Pengasih) yang Maha Memulai dan Maha Mencipta kehidupan dunia dengan merentangkan bayang-bayang asma-Nya yang baik dan sifat-Nya yang luhur di atas mir’ah al-‘adam yang darinya terlukis alam semesta dan segenap bagiannya; baik yang tampak maupun yang gaib; baik yang awal maupun yang akhir; serta segenap bagiannya tanpa terkecuali. Ar-Rahim (Maha Penyayang), yaitu Dzat yang berjanji kepada segala sesuatu atas kembangkitan kembali setelah langit ketinggian dan bumi kerendahan digulung kembali ke titik permulaan dan akhirnya (Allah) karena Dia adalah:
مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ
“Penguasa Hari Pembalasan”

Dia adalah Penguasa Hari Pembalasan dan ganjaran, yang menurut syariat disebut dengan istilah Hari Kimat atau al-Thâmmah al-Kubrâ. Pada hari inilah seluruh bumi dan langit akan hancur untuk kemudian semua catatan dari awal sampai akhir di bumi akan digulung.
Pada hari ini semua pandangan dan pikiran lenyap. Segala hijab dan tirai penghalang tersingkap. Semua entitas selain Allah akan sirna. Yang ada hanyalah Allah yang Mahaesa dan Mahapenakluk.
Ketika hamba telah sampai pada maqam dan tujuan ini, serta menyerahkan segala urusan kepada Allah, maka ia berhak selalu bersama Rabb-nya sebagai penyempurna martabat ubudiyah, sehingga tidak ada lagi khitab yang menjelaskan antara “aku dan kamu” dan tersingkap huruf “ghain” dan “’ain”. Pada saat itulah ucapan hamba akan selaras dengan bahasa tindakannya,
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.
Ini adalah kesaksian bahwa hanya kepada-Mu, Ya Allah, bukan kepada selain Engkau. Karena tidak ada yang lain bersama-Mu di alam wujud-Mu kami menyembah, bertawajuh dan menempuh suluk secara hina dan tunduk. Karena tidak ada sesembahan yang kami miliki selain Engkau, sebagaimana tidak ada tujuan selain hanya kepada-Mu dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Maksudnya, kami tidak memohon pertolongan dan kemampuan untuk menyembah-Mu, kecuali hanya pada-Mu, karena tidak ada tempat kami kembali selain Engkau.
اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ
صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ . غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۗلِّيْنَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
Ya Allah, tunjukilah kami dengan kelembutan-Mu, jalan yang lurus, yang dapat menghantarkan kami kepada puncak tauhid-Mu, yakni jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka, dari kalangan para nabi, shiddiqun, syuhada, dan orang-orang saleh, yang menjadi teman-teman terbaik.
Bukan orang-orang yang Engkau murkai, yaitu orang-orang yang ragu dan lari dari jalan kebenaran yang terang, karena mengikuti akal yang penuh dengan ilusi. Dan bukan orang-orang yang sesat, disebabkan fatamorgana dunia yang hina dan godaan setan yang menyimpang dari jalan kebenaran dan hujah yang meyakinkan. Âmin... kami berharap ijabah dari-Mu wahai Dzat yang paling penyayang di antara para penyayang.
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Tafsir Al-Jailani
بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamu'allaikum wr wb
*_Pernahkan kau merasa begitu kecil, begitu lemah, begitu tak berdaya?_*
Kamu bukan apa-apa ketika ditengah samudra.
Kita ini adalah partikel kecil bagian dari galaksi.
Kita adalah para lelakon dunia bukan panggung sandiwara, ini adalah jalan menuju surga.Tinggal bagaimana kita melewatinya dan menujunya.
Kita adalah satu dari keseluruhan makluk hidup yang tak terhingga... Semua yg kita miliki, adalah pemberianNya secara cuma-cuma.
*Nyawa, ilmu, akal, kesempurnaan, kebaikan, rejeki, semua adalah bukti kasih sayangNya.*
_*Lalu apa yg kita sombongkan?*_
Bahkan, alunan detak jantungku tak kan bertahan melawan waktu
Kulitku akan keriput dan menua
Keremajaanku akan ringkih, dan aku lalu tertatih
Tanah akan menjadi rumah
Aku akan membisu diam dan dingin suatu saat nanti*
Tak memiliki teman. Dan menunggu untuk dihidupkan
Aku akan kesepian
_*Apa bekalku?*_
_*Apa yg sudah kumiliki?*_
_*Inikah jalanku?*_
Surga takkan menjadi milikku jika tak ada perbaikan diri.
Akan kulakukan apa yang Engkau perintahkan.
Waktuku milikmu ya Allah.Kamulah pemberi waktu yang adil. 24 jam setiap hari untuk setiap manusia. Semua sama.
Tergantung bagaimana kami menggunakannya.
*Ibadahku, hidupku, matiku, semua dariMu dan milikMu*
Kupasrahkan hidupku. Ketakutan akan murkaMu begitu menakutkanku.
_Allah, berilah aku ketakutan yg cukup untuk selalu mentaati perintahMu_
_Allah, berilah aku kesadaran yg cukup untuk selalu beribadah kepadaMu_
_Allah, berilah aku ingatan akan dosa-dosaku_.
_Jangan biarkan kesombongan menyentuh sedikitpun dari hatiku_
Solo 30 Juli 2016