Pages

Subscribe:

Saturday, June 5, 2010

Visi Pemimpin


Dikisahkan, suatu hari Gajah Mada membayangkan negeri Majapahit sebagai sebuah kerajaan adidaya. Mimpi itu terus memenuhi pikirannya. Hingga, pada saat pengangkatannya sebagai Patih Amangkubhumi Majapahit (Perdana Menteri) tahun 1258 Saka (1336 M), ia mengikrarkan Sumpah Hamukti Palapa. Dalam pidatonya di Bale Manguntur di hadapan Ratu Tribhuwanatunggadewi dan para tamu undangan yang terhormat, Gajah Mada menyatakan sumpahnya. “Jika telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa.”

Begitu mendengar sumpah tersebut, hadirin langsung geger. Gajah Mada dianggap terlalu berani mempertaruhkan kesenangan demi kebesaran Majapahit. Namun Gajah Mada terbukti mampu mewujudkan visinya menyatukan Nusantara, dan melindunginya dari serbuan bangsa asing yang jauh, Tartar (Mongol) dan bangsa kulit putih.

Pemimpin visioner lainnya adalah Muhammad Al Fatih atau dikenal juga dengan Sultan Mehmet II. Al Fatih terkenal karena perjuangannya menaklukkan Konstantinopel. Sejak kakekbuyutnya, telah ratusan ribu pasukan dikerahkan, namun pasukan dari kekaisaran Byzantium selalu berhasil mempertahankan wilayahnya.

Kekuatan benteng yang tebal berlapis dan pasukan Byzantium yang kuat dan terlatih, memang tak mudah dikalahkan. Selama berabad-abad, kekuatan Byzantium —merupakan kelanjutan dari Kekaisaran Romawi pada abad pertengahan— menguasai imperium yang sangat luas.

Beragam strategi disiapkan Al Fatih untuk mengalahkan Byzantium. Namun, yang paling fenomenal adalah ketika ia menaklukkan pertahanan laut musuhnya itu. Serangan armada laut Turki melalui perairan untuk merobohkan benteng Konstantinopel di Lembah Lycos, mendapat hambatan rantai bergerigi besar dan kuat yang dipasang Byzantium. Akibatnya, banyak kapal pasukan Al Fatih yang tenggelam.

Melihat situasi seperti itu, Al Fatih tak putus semangat. Tercetuslah gagasan spektakuler, yaitu memindahkan armada lautnya melalui daratan. Ide itu awalnya kurang ditanggapi oleh para prajuritnya. Namun, setelah Al Fatih menjelaskan bahwa dengan menggunakan kayu gelondongan dan minyak goreng, kapal bisa ditarik dengan licin, maka ide itu dapat terlaksana dengan baik. Pada malam hari, sekitar 70 kapal perang Turki berhasil berlayar di daratan. Rakyat Byzantium banyak yang tidak percaya menyaksikan kapal-kapal perang Turki telah berlayar di puncak bukit, bukan di ombak lautan.

Apa yang membuat Al Fatih mampu mengalahkan Byzantium dengan ide spektakuler yang semula dianggap mustahil itu? Al Fatih sudah membayangkan kemenangannya di depan mata sebelum ia bertempur, dan ia sangat meyakininya. Orang-orang besar yang tercatat dalam sejarah senantiasa memiliki visi jauh ke depan, seperti Al Fatih, Gajah Mada, dan masih banyak lagi tokoh terkemuka lainnya.

Manusia pada dasarnya memiliki impian dan keinginan untuk merealisasikan visi mulia (sifat Allah) ke dalam kehidupan nyata. Allah Al Bashiir Yang Maha Melihat memberikan kemampuan pada manusia untuk mampu melihat jauh ke depan. Hal inilah yang menuntun para pemimpin sehingga sukses mewujudkan impiannya. Ia mampu ”melihat” sekaligus meyakininya. -ARY GINANJAR AGUSTIAN-

0 comments:

Post a Comment