Pages

Subscribe:

Saturday, October 8, 2011

Nasehat Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq kepada Anaknya

Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq dilahirkan di kota
Madinah pada hari Senin, malam ke 13 dari Rabi’ul Awal, tahun 80 H (ada yang
menyebutkan tahun 83 H). Banyak para imam besar (semoga Allah meridhoi mereka)
yang mengambil ilmu dari beliau, diantaranya Yahya bin Sa’id, Ibnu Juraid, Imam
Malik, Sufyan Ats-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Abu Hanifah, Su’bah dan Ayyub.
Banyak ilmu dan pengetahuan yang diturunkan dari beliau, sehingga nama beliau
tersohor luas seantero negeri. Umar bin Miqdam berkata, “Jika aku melihat
kepada Ja’far bin Muhammad, aku yakin bahwa beliau adalah keturunan nabi.”
Sebagian dari mutiara kalam beliau (Al-Imam
Ja’far Ash-Shodiq) adalah :
“Tiada bekal yang lebih utama daripada takwa.
Tiada sesuatu yang lebih baik daripada diam. Tiada musuh yang lebih berbahaya
daripada kebodohan. Tiada penyakit yang lebih parah daripada berbohong.”
“Jika engkau mendengar suatu kalimat dari
seorang muslim, maka bawalah kalimat itu pada sebaik-baiknya tempat yang engkau
temui. Jika engkau tak mampu untuk mendapatkan wadah tempat kalimat tersebut,
maka celalah dirimu sendiri.”
“Jika engkau berbuat dosa, maka memohon
ampunlah, karena sesungguhnya dosa-dosa itu telah dibebankan di leher-leher
manusia sebelum ia diciptakan. Dan sesungguhnya kebinasaan yang dahsyat itu
adalah terletak pada melakukan dosa secara terus-menerus.”
“Barangsiapa yang rizkinya lambat, maka
perbanyaklah istighfar. Barangsiapa yang dibuat kagum oleh sesuatu dan
menginginkannya demikian terus, maka perbanyaklah ucapan maa syaa-allah laa
quwwata illa billah.”
“Allah telah memerintahkan kepada dunia,
‘Berkhidmatlah kepada orang yang berkhidmat kepadaku, dan buatlah payah orang
yang berkhidmat kepadamu.’ “
“Fugaha itu orang yang memegang amanah para
rasul, selama tidak masuk ke dalam pintu-pintu penguasa.”
“Jika engkau menjumpai sesuatu yang tidak
engkau sukai dari perbuatan saudaramu, maka carilah satu, atau bahkan sampai
tujuh puluh alasan, untuk membenarkan perbuatan saudaramu itu. Jika engkau masih
belum mendapatkannya, maka katakanlah, ‘Semoga ia mempunyai alasan tertentu
(kenapa berbuat demikian) yang aku tidak mengetahuinya.’ “
“Empat hal yang tidak seharusnya bagi
seorang yang mulia untuk memandang rendah : bangunnya dia dari tempat duduknya
untuk menemui ayahnya, berkhidmatnya dia kepada tamunya, bangunnya dia dari atas
binatang tunggangannya, dan berkhidmatnya dia kepada seorang yang menuntut ilmu
kepadanya.”
“Tidaklah kebaikan itu sempurna kecuali
dengan tiga hal : menganggapnya rendah (tidak berarti apa-apa), menutupinya dan
mempercepatnya. Sesungguhnya jika engkau merendahkannya, ia akan menjadi agung.
Jika engkau menutupinya, engkau telah menyempurnakannya. Jika engkau
mempercepatnya, engkau akan dibahagiakannya.”
Dari sebagian wasiat-wasiat beliau kepada
putranya, Musa :
“Wahai putraku, barangsiapa yang menerima
dengan ikhlas apa-apa yang telah dibagikan oleh Allah daripada rizki, maka ia
akan merasa berkecukupan. Barangsiapa yang membentangkan matanya untuk melihat
apa-apa yang ada di tangannya selainnya, maka ia akan mati miskin. Barangsiapa
yang tidak rela dengan apa-apa yang telah dibagikan oleh Allah daripada rizki,
maka berarti ia telah menuduh Allah di dalam qadha’-Nya.”
“Barangsiapa yang memandang rendah
kesalahannya sendiri, maka ia akan membesar-besarkan kesalahan orang lain.
Barangsiapa yang memandang kecil kesalahan orang lain, maka ia akan memandang
besar kesalahannya sendiri.”
“Wahai anakku, barangsiapa yang membuka
kesalahan orang lain, maka akan dibukakanlah kesalahan-kesalahan keturunannya.
Barangsiapa yang menghunuskan pedang kezaliman, maka ia akan terbunuh dengannya.
Barangsiapa yang menggali sumur agar saudaranya masuk ke dalamnya, maka ia
sendirilah yang nanti akan jatuh ke dalamnya.”
“Barangsiapa yang masuk ke dalam
tempat-tempat orang-orang bodoh, maka ia akan dipandang rendah. Barangsiapa yang
bergaul dengan ulama, ia akan dipandang mulia. Barangsiapa yang masuk ke dalam
tempat-tempat kejelekan, maka ia akan dituduh melakukan kejelekan itu.”
“Wahai putraku, janganlah engkau masuk di
dalam sesuatu yang tidak membawa manfaat apa-apa kepadamu, supaya engkau tidak
menjadi hina.”
“Wahai putraku, katakanlah yang benar,
walaupun berdampak baik kepadamu ataupun berdampak buruk.”
“Wahai putraku, jadikan dirimu memerintahkan
kebaikan, melarang kemungkaran, menyambung tali silaturrahmi kepada seorang yang
memutuskan hubungan denganmu, menyapa kepada seorang yang bersikap diam
kepadamu, dan memberi kepada seorang yang meminta darimu. Jauhilah daripada
perbuatan mengadu domba, karena hal itu akan menanamkan kedengkian di hati
manusia. Jauhilah daripada perbuatan membuka aib-aib manusia.”
“Wahai putraku, jika engkau berkunjung, maka
kunjungilah orang-orang yang baik, dan janganlah mengunjungi orang-orang
pendusta.”

1 comments:

prajurit said...

wah kata kata yang baik kamg smga bnyak yang membaca dan mengamalkannya sehingga menjadi manfaat,,,,

Post a Comment