Pages

Subscribe:

Thursday, January 13, 2011

Keagungan Bismillah

 Oleh: Syarifuddin Mustafa, MA
dakwatuna.com – Dalam Hadits Rasulullah saw bersabda, “Setiap
pekerjaan yang baik, jika tidak dimulai dengan “Bismillah” (menyebut
nama Allah) maka (pekerjaan tersebut) akan terputus (dari keberkahan
Allah)”.
Dalam keseharian kita tentunya selalu melakukan kegiatan dan
aktivitas, tanpa kegiatan dan aktivitas kehidupan kita akan hampa,
hambar dan tidak produktif. Kegiatan tersebut bisa dilakukan dimana
saja, di rumah, di kantor, di jalan, di warung, di pasar, di sekolah
dan ditempat-tempat lainnya. Dan –bagi orang beriman- kegiatan atau
aktivitas adalah sarana menebar kebajikan, baik kata maupun perbuatan
selalu memberikan kebaikan pada dirinya dan orang lain. Bukankah
Rasulullah saw mengumpamakan jati diri seorang muslim seperti seekor
lebah. Makanan yang dimakan adalah baik dan yang dikeluarkan pun baik,
lebah hinggap atau tinggal tidak pernah merusak yang lainnya.
Namun kadangkala kebanyakan dari kita tidak sadar memulai segala
aktivitas atau kegiatan tanpa mengucapkan membaca kalimat bismillah,
padahal diterima atau tidak amal perbuatan seseorang bergantung pada
kalimat tersebut.
Ketika bangun tidur sudahkah kita mengucapkan alhamdulillah dan
memulai aktivitas hari itu dengan bismillah?
Ketika akan mandi, berpakaian, sarapan pagi sudahkah kita memulainya
dengan bismillah?
Ketika akan berangkat ke kantor, keluar dari rumah, naik kendaraan
sudahkah kita memulainya dengan bismillah?
Ketika di kantor, sudahkah ketika kita masuk ruangan kantor,
menyalakan komputer, membuka berkas atau file, membuka rapat, menulis,
membaca memulainya dengan bismillah?
Begitu banyak lagi aktivitas yang kita lakukan dalam keseharian kita,
namun sudahkan kita memulainya dengan bismillah??
Kadang kita menganggap hal tersebut adalah sepele, padahal di sisi
Allah merupakan kebaikan yang bernilai besar, diberkahi atau tidaknya
perbuatan dan aktivitas seseorang tergantung pada saat memulainya.
Sebenarnya apa sih keistimewaan dari bismillah sehingga Allah dan
Rasul-Nya mensyariatkan kepada kita untuk memulai segala aktivitas,
perbuatan dan kegiatan dengan membaca bismillah?
Sebagian ulama salaf mengatakan bahwa “bismillah merupakan inti
kandungan ajaran Islam” karena di situ ada unsur keyakinan terhadap
Allah yang telah memberikan kekuatan sehingga seseorang dapat
melakukan aktivitas yang diinginkan, pangakuan akan ketidakberdayaan
seseorang di hadapan Allah Taala. “La haula wala quwwata illa billah
(Tiada daya dan upaya kecuali atas izin Allah). Apalagi kalau
bacaannya kita sempurnakan dengan kata bismillahirrahmanirrahim maka
kita telah meyakini akan kebesaran Allah yang telah memberikan nikmat
dan karunia, kasih sayang dan rahimnya kepada seluruh makhluk-Nya.
Jika kita runut secara bahasa, maka akan kita dapatkan keagungan
kalimat bismillahirrahmanirrahim. kata Bismillah misalnya merupakan
tiga rangkaian kata yang mengandung arti yang agung yaitu Ba (bi),
Ism, dan Allah.
1. Huruf ba yang dibaca bi di sini mengandung dua arti:
Pertama: huruf bi yang diterjemahkan dengan kata “dengan” menyimpan
satu kata yang tidak terucapkan tetapi harus terlintas dalam benak
ketika mengucapkan basmalah, yaitu memulai. Sehingga bismillah berarti
“saya atau kami memulai dengan nama Allah”. Dengan demikian kalimat
tersebut menjadi semacam doa atau pernyataan dari pengucap. Atau dapat
juga diartikan sebagai perintah dari Allah (walaupun kalimat tersebut
tidak berbentuk perintah), “Mulailah dengan nama Allah!”.
Kedua: huruf bi yang diterjemahkan dengan kata “dengan” itu, dikaitkan
dalam benak dengan kata “kekuasaan dan pertolongan”. Pengucap basmalah
seakan-akan berkata, “dengan kekuasaan Allah dan pertolongan-Nya,
pekerjaan yang sedang saya lakukan ini dapat terlaksana”. Pengucapnya
seharusnya sadar bahwa tanpa kekuasaan Allah dan pertolongan-Nya, apa
yang sedang dikerjakannya itu tidak akan berhasil. Ia menyadari
kelemahan dan keterbatasan dirinya tetapi pada saat yang sama –setelah
menghayati arti basmalah ini – ia memiliki kekuatan dan rasa percaya
diri karena ketika itu dia telah menyandarkan dirinya dan bermohon
bantuan Allah Yang Maha Kuasa itu.
2. Kata Ism setelah huruf bi terambil dari kata as-sumuw yang berarti
tinggi dan mulia atau dari kata as-simah yang berarti yang berarti
tanda. Kata ini biasa diterjemahkan dengan nama. Nama disebut ism,
karena ia seharusnya dijunjung tinggi atau karena ia menjadi tanda
bagi sesuatu.
Syaikh Al-Maraghi dalam tafsirnya menjelaskan dengan penyebutan nama
di sini berarti dirinya memulai pekerjaan dengan nama Allah dan atas
perintahnya bukan atas dorongan hawa nafsu belaka.
Penyebutan nama Allah diharapkan pekerjaan itu menjadi kekal disisi
Allah. Di sini bukannya Allah yang nama-Nya disebut itu yang kita
harapkan menjadi kekal karena Dia justru Maha Kekal. Namun yang kita
harapkan adalah agar pekerjaan yang kita lakukan itu serta ganjarannya
menjadi kekal sampai hari kemudian. Banyak pekerjaan yang dilakukan
seseorang tetapi tidak mempunyai bekas apa-apa terhadap dirinya atau
masyarakatnya, apalagi berbekas dan ditemui ganjarannya di hari
kemudian. Demikianlah Allah mentamsilkan perbuatan orang-orang yang
kafir yang tidak dibarengi dengan keikhlasan kepada Allah, “Dan Kami
hadapi hasil-hasil karya mereka (yang baik-baik itu), kemudian Kami
jadikan ia (bagaikan) debu yang beterbangan (sia-sia belaka). (QS 25:
23)
3. kata Allah, berakar dari kata walaha yang berarti mengherankan atau
menakjubkan. Jadi Tuhan dinamai Allah karena segala perbuatan-Nya
menakjubkan dan mengherankan. Karena itu terdapat petunjuk yang
menyatakan, “Berfikirlah tentang makhluk-makhluk Allah dan jangan
berfikir tentang Dzat-Nya”.
Sementara itu sebagian ulama mengungkapkan bahwa kata Allah terambil
dari kata aliha – ya’lahu yang berarti menuju dan bermohon. Tuhan
dinamai Allah karena seluruh makhluk menuju serta bermohon kepada-Nya
dalam memenuhi kebutuhan mereka, atau juga berarti menyembah dan
mengabdi, sehingga lafazh Allah berarti “Zat yang berhak disembah dan
kepada-Nya tertuju segala pengabdian”.
Syaikh Mutawalli Sya’rawi, seorang guru besar pada universitas
Al-Azhar, ulama kontemporer dan pakar bahasa menyebutkan dalam
tafsirnya tentang keistimewaan lafadz Allah ; “Lafadz Allah selalu ada
dalam diri manusia, walaupun ia mengingkari wujud-Nya dengan ucapan
atau perbuatannya. Kata ini selalu menunjuk kepada Dia yang diharapkan
bantuan-Nya itu. Perhaitkanlah kata Allah. Bila huruf pertamanya
dihapus, maka ia akan terbaca Lillah yang artinya “demi/karena Allah”.
Bila satu huruf berikutnya dihapus, akan terbaca lahu, yang artinya
untuk-Nya. Bila huruf berikutnya dihapus, maka ia akan tertulis huruf
ha yang dapat dibaca hu (huwa) yang artinya Dia”.
Apabila anda berkata Allah maka akan terlintas atau seyogianya
terlintas dalam benak Anda segala sifat kesempurnaan. Dia Mahakuat,
mahabijaksana, Mahakaya, Maha Berkreasi, Mahaindah, Mahasuci dan
sebagainya. Seseorang yang mempercayai Tuhan, pasti meyakini bahwa
Tuhannya Mahasempurna dalam segala hal, serta Mahasuci dari segala
kekurangan.
Sifat-sifat Tuhan yang diperkenalkan cukup banyak. Dalam salah satu
hadits dikatakan bahwa sifat (nama-nama) Tuhan berjumlah sembilan
puluh sembilan nama (sifat).
Demikian banyak sifat (nama) Tuhan, namun yang terpilih dalam basmalah
hanya dua sifat, yaitu Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang keduanya terambil
dari akar kata yang sama. Agaknya sifat ini dipilih, karena sifat
itulah yang paling dominan. Dalam hal ini Allah dalam Al-Quran
menegaskan “Rahmat-Ku mencakup segala sesuatu”. (QS 7: 156). Sebuah
hadits Qudsi menyebutkan bahwa rahmat Allah mengalahkan amarah-Nya.
Kedua kata tersebut, Ar-Rahman dan Ar-Rahim, berakar dari kata Rahm
yang juga telah masuk dalam perbendaharaan bahasa Indonesia, yang
berarti peranakan atau kandungan. Apabila disebut kata Rahim, maka
yang terlintas di dalam benak adalah ibu dan anak, dan ketika dapat
terbayang betapa besar kasih sayang yang dicurahkan sang ibu kepada
anaknya. Tetapi, jangan disimpulkan bahwa sifat Rahmat Tuhan sepadan
dengan sifat rahmat ibu.
Abu Hurairah meriwayatkan sabda Rasulullah saw yang mendekatkan
gambaran besarnya rahmat Tuhan: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,
“Allah SWT menjadikan rahmat itu seratus bagian, disimpan di sisi-Nya
sembilan puluh sembilan dan diturunkan-Nya ke bumi itu satu bagian.
Satu bagian inilah yang dibagi pada seluruh makhluk. (begitu ratanya
sampai-sampai satu bagian yang dibagikan itu diperoleh pula oleh)
seekor binatang yang mengangkat kakinya karena dorongan kasih saying,
khawatir jangan sampai menginjak anaknya”. (HR. Muslim)
Dalam ungkapan lainnya disebutkan bahwa kata Rahman adalah merupakan
sifat kasih sayang Allah kepada seluruh makhluk-Nya yang diberikan di
dunia, baik manusia beriman atau kafir, binatang dan tumbuh-tumbuhan
serta makhluk lainnya. Bukankah kita –dengan kasih sayang-Nya- telah
diberikan kehidupan, diberikan kemudahan menghirup udara, kemudahan
berjalan, berlari dan melakukan segala aktivitasnya, walaupun sangat
sedikit dari kita mau merenungkan apalagi mensyukuri segala nikmat
tersebut? Allah senantiasa memberikan kasih sayang-Nya kepada manusia
sekalipun mereka ingkar kepada-Nya.
Sementara itu kara Rahim diberikan secara khusus oleh Allah kelak
nanti dialam akhirat yaitu hanya bagi mereka yang beriman dan
mensyukuri segala kenikmatan yang telah dianugrahkan kepada mereka.
Kasih sayang-Nya secara khusus diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang
mengabdikan dirinya kepada Allah dan yakin bahwa semua kenikmatan
adalah bersumber dari Allah. Bahkan yakin bahwa segala amal ibadahnya,
perbuatan baiknya tidak akan menjamin akan dirinya masuk ke surga-Nya
kecuali karena Rahmat-Nya.
Suatu kali Rasulullah saw berpesan kepada para sahabatnya,
“Bersegeralah kalian berbuat baik dan perkuatlah hubungan kepada
Allah. Dan ketahuilah bahwa amal kalian tidak menjamin kalian masuk
surga. Sambil terheran para sahabat bertanya, “Termasuk Engkau wahai
Rasulullah”? Rasulullah saw menjawab, “Betul, termasuk saya..kecuali
jika Allah menganugrahkan rahmat-Nya dan karunia-Nya kepadaku”.
Wallahu a’lam.

0 comments:

Post a Comment